Fakta Nasional

Bukan Cuma Rupiah, Mata Uang Negara Ini Ikut Ambruk Dihantam Konflik Global

FAKTANASIONAL.NET - Awan mendung masih menyelimuti prospek pasar keuangan Asia, memaksa mayoritas mata uang regional tunduk pada keperkasaan dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,14 persen, tergelincir ke lev…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 02 June 2026 📖 1 menit
Bukan Cuma Rupiah, Mata Uang Negara Ini Ikut Ambruk Dihantam Konflik Global
Nilai tukar rupiah yang resmi melampaui level psikologis Rp18.000 per dolar AS akibat sentimen negatif konflik Timur Tengah, Kamis (4/6/2026)./(Foto: Ilustrasi/@pixabay)
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Awan mendung masih menyelimuti prospek pasar keuangan Asia, memaksa mayoritas mata uang regional tunduk pada keperkasaan dolar Amerika Serikat.

Mata uang Garuda tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,14 persen, tergelincir ke level Rp17.890 per dolar AS.

Dilansir dari CNBC uang dikutip dari rilis data Refinitiv pada perdagangan Selasa pagi, 2 Juni 2026 pukul 09.15 WIB, tujuh dari sembilan mata uang utama Asia mengalami tekanan depresiasi. Tren negatif ini membuat nilai tukar Rupiah semakin terdesak.

Pergerakan minor tersebut menjadikan posisi Rupiah kian krusial lantaran nyaris menyentuh ambang batas level psikologis di angka Rp17.900 per dolar AS.

Tekanan nilai tukar ini terjadi secara merata. Depresiasi terdalam dialami dolar Taiwan yang terperosok 0,35 persen ke posisi TWD31,395/US$. Dong Vietnam merosot 0,26 persen (VND26.334/US$), diikuti won Korea Selatan yang terkoreksi 0,21 persen (KRW1.516,4/US$).

Pelemahan turut menjalar ke dolar Singapura yang susut 0,05 persen (SGD1,287/US$), yen Jepang turun 0,03 persen (JPY159,7/US$), serta peso Filipina melemah tipis 0,01 persen (PHP61,734/US$).

Anomali penguatan hanya dinikmati baht Thailand yang naik 0,25 persen (THB32,57/US$) dan yuan China yang terapresiasi 0,03 persen (CNY6,7631/US$).

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau stabil dengan kenaikan 0,01 persen di posisi 99,208, menjaganya tetap bertengger di atas level 99.

Soliditas ini didorong tingginya permintaan aset aman (safe haven) akibat macetnya perundingan diplomatik AS dan Iran.

Otoritas Teheran menunda jalur komunikasi dengan Washington imbas ketegangan Israel di Lebanon, meski Donald Trump menyebut potensi pembukaan Selat Hormuz bisa terwujud dalam sepekan.

Kondisi geopolitik ini memicu ketakutan atas inflasi energi, yang dapat memaksa The Fed kembali mengetatkan suku bunga.

Saat ini, investor Asia menahan diri sembari memantau rilis data lowongan kerja JOLTS serta laporan tenaga kerja AS pada Jumat esok.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK