Fakta Nasional

Cara Aseng Menaklukkan Aparat dan Pejabat Agar Tambangnya Aman Sentosa

ASENG atau Sudianto, raja tambang di Kalbar. Terkenal licin, sangat sulit ditangkap. Sebab, aparat hukum maupun pejabat dengan mudah dihijaukan matanya dengan uang. Namun, sepandai-pandainya tikus nyebur ke got, ketangkap juga oleh Kejagung. Mari ki…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Zul Jamba Editor: Redaksi 📍 Nasional Thursday, 02 July 2026 📖 4 menit
Cara Aseng Menaklukkan Aparat dan Pejabat Agar Tambangnya Aman Sentosa
Aseng atau Sudianto, raja tambang Kalbar yang ditangkap Kejagung/Dok. Ist.

ASENG atau Sudianto, raja tambang di Kalbar. Terkenal licin, sangat sulit ditangkap. Sebab, aparat hukum maupun pejabat dengan mudah dihijaukan matanya dengan uang. Namun, sepandai-pandainya tikus nyebur ke got, ketangkap juga oleh Kejagung. Mari kita ungkap cara Aseng menaklukan aparat dan pejabat agar bisnis tambangnya aman sentosa.

Aseng menjalankan bisnis tambang kurang lebih delapan tahun. Bukan delapan hari, bukan delapan bulan. Dari 2017 sampai 2025, operasi tambang bauksit yang kini diusut Kejaksaan Agung diduga berjalan mulus bak jalan tol yang bebas macet. Pertanyaannya sederhana. Kalau memang semua yang diduga terjadi itu benar, bagaimana mungkin aktivitas sebesar itu bisa berlangsung begitu lama tanpa ada yang merasa aneh?

Di Sinilah Cerita Mulai Menarik.

Langkah pertama diduga sangat sederhana. Punya perusahaan yang memiliki IUP resmi, yakni PT Quality Sukses Sejahtera (QSS). Izin ada. Stempel ada. Dokumen ada. Tinggal persoalannya, menurut penyidik, bauksit justru diduga diambil dari luar wilayah IUP. Lucunya, hasil tambang dari lokasi ilegal itu kemudian menggunakan dokumen PT QSS seolah-olah berasal dari lokasi yang sah. Kalau ini pertandingan sepak bola, ibarat mencetak gol di stadion tetangga, tetapi pialanya diklaim menang di kandang sendiri.

Cara kedua, menurut dugaan penyidik, adalah memanfaatkan dokumen sebagai alat sulap. Bauksit yang asal-usulnya dipersoalkan itu tetap dapat diperdagangkan, diekspor, padahal kewajiban pembangunan smelter menjadi syarat juga, diduga tidak dipenuhi. Hebatnya lagi, pola seperti ini bukan berlangsung semalam suntuk. Melainkan bertahun-tahun. Sampai orang mungkin mengira beginilah memang cara industri pertambangan bekerja.

Cara ketiga yang membuat perkara ini semakin menarik adalah dugaan membangun jaringan. Penyidik menyebut Aseng sebagai beneficial owner mengendalikan operasi dari belakang layar. Akuisisi perusahaan diduga menggunakan data tidak sebenarnya dan tanpa uji tuntas sebagaimana mestinya. Ini bukan lagi soal satu orang memegang sekop. Ini diduga soal sebuah sistem yang bekerja rapi, di mana setiap roda tahu kapan harus berputar dan kapan harus diam.

Lalu muncullah pertanyaan lebih besar. Sistem serapi itu bisa bertahan delapan tahun tanpa dukungan siapa?

Jawaban awal mulai terlihat ketika penyidikan berkembang. Pada 21 Mei 2026, Kejaksaan Agung menetapkan Aseng sebagai tersangka. Penggeledahan dilakukan di kantor Mega Mall Pontianak, rumah, hingga gudang. Barang sitaan pun membuat publik mengucek mata. Ada Lamborghini Aventador 2022, Toyota Fortuner VRZ, Toyota Camry, puluhan ekskavator, dump truck, ponton yang sebagian masih diburu, hingga aset tanah bernilai fantastis. Semua itu kini menjadi bagian dari pembuktian perkara. Aseng sendiri ditahan di Rutan Salemba.

Tetapi yang paling menarik justru daftar tersangkanya. Bukan cuma Aseng.

Ada Komisaris PT QSS berinisial YA, Direktur PT QSS Ayi Paryana (AP), konsultan perizinan Ivan Ariyanto (IA) yang juga Direktur PT BMU, serta Hadi Sahal Fadly Daulay (HSFD) yang merupakan analis pertambangan di Kementerian ESDM. Nama terakhir membuat banyak orang spontan bertanya-tanya. Kalau analis pertambangan saja diduga ikut bermain, siapa lagi yang sedang benar-benar mengawasi tambang?

Belum Selesai.

Informasi yang berkembang di lingkungan penyidik juga menyebut adanya dugaan aliran dana hingga Rp40 miliar kepada mantan anggota Komisi VII DPR RI berinisial MA. Dana tersebut diduga berkaitan dengan pengurusan dokumen dan pengawasan. Dugaan itu tentu masih harus dibuktikan di pengadilan. Namun kalau benar, publik akan semakin memahami mengapa tambang yang dipersoalkan itu bisa tetap beroperasi begitu lama seolah tidak pernah kehilangan bensin.

Di Kalbar sendiri, bisik-bisik mengenai kedekatan Aseng dengan sejumlah aparat sebenarnya sudah lama beredar. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah kedekatannya dengan mantan Kapolda Kalbar Irjen Pol Pipit Rismanto. Keduanya beberapa kali terlihat bersama dalam acara publik, termasuk kegiatan bola voli yang digelar Polda Kalbar. Kedekatan itu kemudian memunculkan dugaan adanya perlindungan terhadap aktivitas tambang ilegal.

Isu tersebut berkembang hingga Propam Mabes Polri melakukan pemeriksaan terhadap Pipit. Apakah benar ada perlindungan? Ataukah itu sekadar hubungan sosial yang kemudian ditafsirkan berlebihan? Jawabannya tetap menunggu proses hukum.

Namun bagi masyarakat Kalbar, cerita mengenai mafia tambang bukanlah barang baru. Yang baru hanyalah keberanian negara mulai membuka kotak yang selama ini terlihat terkunci rapat.

Kalau seluruh dugaan dalam perkara ini nanti terbukti di pengadilan, cara menaklukkan aparat dan pejabat ternyata tidak membutuhkan ilmu gaib. Cukup jaringan, dokumen, uang, dan orang-orang yang bersedia menutup mata. Bukit digali, dokumen berjalan, pengawasan menghilang, kekayaan alam berlayar keluar negeri, sementara negara sibuk menghitung kerugian yang masih diaudit BPKP.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa Aseng. Pertanyaannya, apakah Aseng hanya satu?

Sebab kalau satu orang saja diduga bisa menjalankan pola seperti ini selama delapan tahun, mustahil persoalannya berhenti pada satu nama. Tambang ilegal tidak pernah tumbuh sendirian. Ia biasanya tumbuh subur karena disiram pembiaran, dipupuk kekuasaan, lalu dipanen berjamaah.

Negara memang akhirnya bergerak. Tetapi rakyat tentu berharap penyidikan tidak berhenti pada lima tersangka. Karena kalau hanya ranting yang dipotong sementara akarnya tetap dibiarkan hidup, cepat atau lambat akan tumbuh Aseng baru. Mungkin dengan nama berbeda. Mungkin dengan perusahaan berbeda. Mungkin dengan Lamborghini yang warnanya berbeda.

Tetapi polanya akan tetap sama. Lagi-lagi, yang hilang bukan sekadar bauksit, melainkan masa depan negeri yang terus digali, sedikit demi sedikit, sampai habis.[***]

Penulis: Rosadi Jamani (Jurnalis Senior, Ketua Satu Pena Kalbar).


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK