Fakta Nasional

Dikritik Mendekati Kekuasaan, Host In Her View Minta Maaf

FAKTANASIONAL.NET - Sebuah foto di Istana Merdeka ternyata dapat memunculkan perdebatan mengenai independensi media digital. Hal itu dialami Pancatera, rumah produksi di balik podcast In Her View. Para host podcast tersebut hadir dalam perayaan HUT…

Penulis: Djono W Oesman Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 22 August 2026 📖 3 menit
Dikritik Mendekati Kekuasaan, Host In Her View Minta Maaf
Marissa Anita, host Pancatera (kini) yang viral usai foto HUT RI ke-81 bersama Prabowo menuai pro dan kontra. Foto: Threads/@isadoradonis

FAKTANASIONAL.NET - Sebuah foto di Istana Merdeka ternyata dapat memunculkan perdebatan mengenai independensi media digital.

Hal itu dialami Pancatera, rumah produksi di balik podcast In Her View. Para host podcast tersebut hadir dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, 17 Agustus 2026. Mereka kemudian mengunggah foto kehadiran mereka, termasuk foto bersama Presiden Prabowo Subianto dan Didit Hediprasetyo, putera tunggal Presiden Prabowo Subianto.

Alih-alih hanya mendapat ucapan selamat, unggahan tersebut justru memunculkan kritik dari sebagian audiens.

Masalahnya bukan semata-mata karena mereka hadir di Istana.

Kritik terutama berkaitan dengan persepsi independensi.

In Her View selama ini dikenal sebagai ruang percakapan mengenai perempuan, kehidupan sosial, dan berbagai persoalan masyarakat.

Karena memiliki karakter sebagai ruang diskusi, sebagian audiens merasa bahwa kedekatan visual dengan pemerintah dapat menimbulkan persepsi berbeda.

Pertanyaan yang muncul kira-kira sederhana: apakah kehadiran dalam acara pemerintah dapat membuat media atau platform diskusi kehilangan jarak kritis?

Pertanyaan tersebut penting di era media digital.

Pada masa lalu, masyarakat dapat membedakan media massa dengan lembaga pemerintah secara lebih jelas. Sekarang batasnya jauh lebih cair. Podcast, kanal YouTube, Instagram, TikTok, dan platform digital lainnya dapat berfungsi sebagai media sekaligus ruang komunitas.

Karena itu, independensi bukan hanya persoalan apakah sebuah media menerima uang pemerintah atau tidak. Independensi juga berkaitan dengan persepsi publik terhadap posisi media tersebut.

Pancatera kemudian memberikan klarifikasi dan meminta maaf kepada komunitas pendengarnya. Mereka menegaskan bahwa Pancatera dan In Her View tetap beroperasi secara independen dan didanai secara mandiri, tanpa afiliasi dengan pemerintah ataupun lembaga politik.

Pernyataan tersebut penting. Namun, kritik publik juga penting.

Sebab dalam dunia media, independensi bukan hanya sesuatu yang harus dimiliki, tetapi juga sesuatu yang harus terlihat.

Seorang jurnalis atau pengelola media dapat merasa dirinya tetap independen. Namun publik mempunyai hak untuk bertanya apakah tindakan tertentu berpotensi memengaruhi persepsi terhadap independensi tersebut.

Misalnya, seorang pengelola media menghadiri acara pemerintah sebagai undangan. Kehadiran itu sendiri belum tentu bermasalah. Banyak media dan tokoh masyarakat memang menghadiri acara kenegaraan.

Persoalan baru muncul ketika publik menafsirkan kehadiran tersebut sebagai bentuk kedekatan politik.

Karena itu, respons Pancatera yang menerima kritik dan melakukan evaluasi justru dapat menjadi contoh komunikasi yang sehat.

Tidak semua kritik harus dilawan.

Kadang-kadang kritik publik justru membantu sebuah organisasi memahami bagaimana tindakannya dipersepsikan dari luar.

Namun publik juga perlu menjaga proporsi. Kehadiran seseorang di Istana tidak otomatis membuktikan bahwa orang tersebut sudah menjadi pendukung pemerintah. Corong pemerintah. Belum tentu.

Demikian pula sebuah foto bersama presiden tidak otomatis berarti media kehilangan independensi.

Di sinilah masyarakat digital perlu belajar membedakan antara fakta, persepsi, dan kesimpulan.

Faktanya adalah para host hadir di Istana dan berfoto bersama Presiden.

Persepsinya adalah sebagian audiens menganggap hal itu tidak sesuai dengan citra independen In Her View.

Kesimpulan bahwa mereka kemudian tidak independen tentu saja masih membutuhkan bukti lebih jauh.

Pembedaan semacam ini sangat penting agar kritik sosial tidak berubah menjadi penghakiman.

Pancatera juga dapat mengambil pelajaran lebih jauh. Platform digital yang memiliki komunitas loyal sebaiknya memahami bahwa hubungan mereka dengan audiens bukan sekadar hubungan antara produsen dan konsumen.

Audiens dapat merasa memiliki nilai-nilai yang sama dengan platform tersebut. Ketika platform mengambil tindakan yang dianggap bertentangan dengan nilai tersebut, kekecewaan dapat muncul.

Dalam konteks yang lebih luas, kasus Pancatera menunjukkan bahwa independensi media pada zaman digital bukan hanya soal isi pemberitaan, tetapi juga soal persepsi, hubungan, dan simbol.

Foto sederhana dapat memunculkan pertanyaan besar mengenai posisi sebuah media.

Dan itu bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Justru media yang kuat adalah media yang mampu menerima pertanyaan tersebut, menjelaskan posisinya secara terbuka, serta tetap menunjukkan independensinya melalui karya-karya berikutnya.

Dengan demikian, kritik publik tidak harus berakhir dengan permusuhan.

Kritik dapat menjadi pengingat bahwa ketika sebuah platform sudah menjadi ruang publik, tindakan pengelolanya akan selalu diamati masyarakat. (*)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK