Fakta Nasional

Donald Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Merosot

FAKTANASIONAL.NET — Ketegangan di pasar energi global sedikit mereda. Harga minyak mentah dunia mencatatkan penurunan pada perdagangan Jumat (12/6/2026), menyusul keputusan mendadak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang membatalkan rencana…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 12 June 2026 📖 2 menit
Donald Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Merosot
Harga minyak mentah Brent dan WTI kompak melemah hingga lebih dari 1,3 persen pada perdagangan Jumat (12/6) setelah AS membatalkan rencana serangan militer ke Iran./(pixabay)
) -->

 FAKTANASIONAL.NET — Ketegangan di pasar energi global sedikit mereda. Harga minyak mentah dunia mencatatkan penurunan pada perdagangan Jumat (12/6/2026), menyusul keputusan mendadak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran.

Pembatalan ini langsung meredakan kecemasan para pelaku pasar atas risiko pecahnya perang besar di kawasan Timur Tengah.

Mengutip laporan dari Reuters, pergerakan dua acuan minyak dunia kompak mendarat di zona merah:

  • Minyak mentah Brent (untuk pengiriman terdekat): Turun US$1,21 atau sebesar 1,3 persen, menjadi US$89,17 per barel.

  • Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS: Terkoreksi US$1,23 atau sekitar 1,4 persen, ke level US$86,48 per barel.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas: Harga Minyak Brent Tembus 82 Dolar AS, Pasokan Global Terancam

Jika dikalkulasi sepanjang pekan ini, harga minyak dunia mengalami tekanan yang cukup berat. Secara mingguan, harga minyak Brent tercatat melemah hingga 4,2 persen, sedangkan minyak WTI anjlok sebesar 4,4 persen.

"Meski ini tentu saja bisa menjadi harapan palsu sekali lagi, reaksi pasar berlangsung cepat dan tegas," ujar analis pasar dari IG, Tony Sycamore, mengomentari dinamika tersebut, Jumat (12/6/2026).

Meskipun harga minyak saat ini tengah mengalami koreksi teknis akibat berkurangnya tensi geopolitik, Sycamore mengingatkan bahwa peluang pembalikan arah menuju kenaikan harga masih terbuka sangat lebar.

"Selama harga mampu bertahan di atas level support di kisaran US$80 per barel, risiko masih cenderung mengarah ke kenaikan," tambah Sycamore.

Drama Diplomatik AS-Iran dan Status Selat Hormuz

Pelemahan harga komoditas hitam ini terjadi setelah Donald Trump memilih menarik mundur opsi militer, usai sebelumnya sempat melontarkan ancaman keras terhadap Teheran.

Keputusan tersebut diambil sepihak oleh Trump yang mengklaim adanya kemajuan positif dalam pembicaraan diplomatik rahasia antara Washington dan Teheran.

Namun, klaim sepihak AS tersebut langsung dibayangi ketidakpastian. Kantor berita resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa pihak Teheran secara tegas menyatakan belum menyetujui teks kesepakatan apa pun yang beredar terkait proses negosiasi tersebut.

Di sisi lain, situasi riil di lapangan sebetulnya masih menyimpan bara. Ketegangan sempat memuncak ketika militer Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan memperingatkan bahwa kapal apa pun yang nekat melintas akan dijadikan sasaran tembak.

Ancaman blokade sepihak di jalur pelayaran strategis tersebut dinilai masih menjadi penopang utama mengapa harga minyak mentah belum jatuh terlalu dalam.

Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang menjadi jalur perlintasan bagi sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dan Gas Alam Cair (LNG) global.

Kendati Iran mengancam akan melakukan penutupan, militer Amerika Serikat mengeklaim bahwa kapal-kapal komersial internasional terpantau masih terus melakukan pelayaran melintasi perairan tersebut di bawah pengawasan ketat.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Tembus 110 Dolar AS, Blokade Selat Hormuz Picu Perang Penawaran Global


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK