Drama Persidangan AI: Elon Musk Tuntut OpenAI Rp2.400 Triliun Usai Disingkirkan
FAKTANASIONAL.NET - Konflik internal di tubuh pengembang ChatGPT kini memanas dan resmi bergeser ke ruang persidangan. Elon Musk, sosok yang mengklaim sebagai arsitek utama di balik lahirnya perusahaan tersebut, secara terbuka menyatakan telah disin…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Konflik internal di tubuh pengembang ChatGPT kini memanas dan resmi bergeser ke ruang persidangan.
Elon Musk, sosok yang mengklaim sebagai arsitek utama di balik lahirnya perusahaan tersebut, secara terbuka menyatakan telah disingkirkan secara sepihak.
Mengutip laporan Reuters pada Rabu (29/4/2026), Musk resmi menggugat OpenAI dan para eksekutif puncaknya atas tudingan pengkhianatan terhadap misi awal kemanusiaan.
Ia menilai perusahaan tersebut telah melenceng jauh dari tujuan filantropinya dan bertransformasi menjadi entitas komersial pemburu laba.
Dalam kesaksiannya di Pengadilan Oakland, California, Musk membeberkan dominasinya saat mendirikan laboratorium riset itu pada 2015 silam.
"Saya yang mencetuskan ide, nama, merekrut orang-orang kunci, dan menyediakan seluruh pendanaan awal," tegas Musk dilansir pada 1 Mei 2026.
Bos besar pendiri xAI tersebut menyuarakan kecemasan mendalam bahwa pergeseran haluan OpenAI berpotensi menghancurkan muruah serta fondasi donasi lembaga amal di seluruh wilayah Amerika Serikat.
Langkah hukum yang dilayangkan Musk memuat angka yang sangat fantastis. Ia menuntut ganti rugi masif sebesar US$150 miliar atau setara Rp2.400 triliun dari OpenAI beserta penyokong utamanya, Microsoft.
Lebih jauh dari sekadar denda finansial, Musk secara tegas menuntut agar entitas kecerdasan buatan tersebut dikembalikan menjadi organisasi nirlaba murni. Ia turut mendesak pencopotan paksa Sam Altman dari posisi CEO serta Greg Brockman dari kursi Presiden perusahaan.
Seluruh klaim tersebut langsung dimentahkan oleh tim kuasa hukum OpenAI. William Savitt, selaku pengacara perusahaan, membantah keras tuduhan dengan membeberkan bahwa Musk justru sedari awal memiliki ambisi menyetir OpenAI menjadi mesin profit di bawah kendalinya.
Savitt berargumen bahwa gugatan hukum ini tak lebih dari pelampiasan kekecewaan Musk akibat gagal mengkudeta arah perusahaan yang kini valuasinya diproyeksikan meroket hingga US$850 miliar.
Persidangan panas ini bahkan diwarnai teguran dari Hakim Yvonne Gonzalez Rogers yang meminta Musk mengerem serangan media sosialnya terhadap Altman, mempertontonkan perseteruan ego tingkat tinggi di tengah perebutan supremasi AI global.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.