Dua Bulan Ditawan Perompak Somalia, Kapten MT Honour 25: "Kondisi Kami Sangat Kritis, Minum Air Kotor"
FAKTANASIONAL.NET – Kondisi para pelaut asal Indonesia yang berada di dalam kapal tanker MT Honour 25 kian memprihatinkan. Kapal tersebut diketahui telah dibajak oleh kelompok perompak Somalia sejak 21 April 2026 lalu. Baru-baru ini, sebuah rekaman…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Kondisi para pelaut asal Indonesia yang berada di dalam kapal tanker MT Honour 25 kian memprihatinkan.
Kapal tersebut diketahui telah dibajak oleh kelompok perompak Somalia sejak 21 April 2026 lalu.
Baru-baru ini, sebuah rekaman video yang memperlihatkan kondisi pilu para kru kapal yang kelaparan dan kekurangan bahan makanan beredar luas.
Dalam video tersebut, Kapten kapal MT Honour 25, Ashari Samadikun, pelaut asal Sulawesi Selatan, menyampaikan permohonan emosional kepada Pemerintah Indonesia agar segera turun tangan menyelamatkan nyawa mereka.
“Kondisi kami sekarang sangat-sangat kritis. Kami tidak tahu harus bertahan dengan apa? Sekarang crew saya banyak yang sakit. Mereka mengalami diabetes, mengalami infeksi. Banyak yang sudah tidak mampu bertahan sekarang, karena kami makan dengan makanan seadanya, air kotor,” ujar Ashari dengan nada getir, dikutip dari video yang beredar, Sabtu (20/6).
Baca Juga: Gempa Magnitudo 5,3 Guncang Barat Laut Pulau Karatung Sulawesi Utara, Tidak Berpotensi Tsunami
Ashari mengungkapkan bahwa hingga saat ini pihak perusahaan tempat mereka bekerja terkesan lepas tangan dan belum mengirimkan bantuan apa pun. Ia menyebut para pembajak sebenarnya hanya ingin berkomunikasi dengan pemilik kapal, namun tidak ada respons yang memadai.
“Pihak perusahaan tidak sama sekali, belum ada yang mereka kirimkan kepada kami. Pembajak hanya ingin bernegosiasi dengan pihak perusahaan yang ada di dokumen di kapal kami. Dan kami minta tolong kepada pemerintah (Indonesia) untuk mengintervensi perusahaan kami untuk mempertanggungjawabkan para crew-nya di sini. Karena kami sangat kesulitan dalam menjalankan hidup keseharian di sini,” tambah Ashari.
Penyanderaan yang menimpa empat pelaut Indonesia ini kini telah memasuki bulan kedua.
Meskipun Kementerian Luar Negeri RI melalui KBRI Nairobi menyatakan telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, upaya diplomasi tersebut sejauh ini belum membuahkan hasil nyata di lapangan.
SAKTI Desak Kemlu Tekan Pemilik Kapal, Tebusan Turun Jadi 3 Juta USD
Secara terpisah, Ketua Serikat Awak Kapal Transportasi Indonesia (SAKTI), Syofyan El Comandante, terus mendesak Kemlu RI untuk bersikap lebih tegas. SAKTI meminta pemerintah menekan pemilik kapal MT Honour 25 agar serius melakukan proses negosiasi pembebasan dengan para perompak.
“Jika owner (pemilik) tidak peduli dengan kapal dan crew-nya, sebaiknya lapor ke flag state (negara bendera kapal) supaya kapal dan muatannya bisa dijual untuk membayar tebusan yang diminta perompak,” tegas Syofyan, Jumat (19/6) malam.
Menariknya, Syofyan mengaku pihak SAKTI berhasil membangun komunikasi langsung dengan jaringan perompak yang menyandera MT Honour 25.
Dari kontak tersebut, diketahui bahwa nominal uang tebusan yang diminta oleh pembajak telah turun drastis dari yang sebelumnya dikabarkan mencapai 10 juta Dolar AS, kini menjadi 3 juta Dolar AS (sekitar Rp49 miliar).
Guna mempercepat proses pembebasan yang sudah berlarut-larut ini, SAKTI menyarankan agar pemilik kapal segera mengambil langkah profesional dengan melibatkan pihak ketiga yang berpengalaman.
“SAKTI setelah berdiskusi dengan kolega jaringan di luar negeri mengusulkan supaya owner menunjuk negosiator kredibel yang bisa diterima perompak untuk negosiasi pembebasan para ABK,” pungkas Syofyan.
Baca Juga: INFISA Tetapkan Status Darurat: Desak Pemerintah Segera Repatriasi 13 ABK Indonesia di Baku
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.