Dunia Mengecam Israel! Spanyol Desak Putus Hubungan, Trump Pasang Badan untuk Netanyahu
FAKTANASIONAL.NET - Dunia baru saja menarik napas lega ketika gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan. Harapan sempat muncul: mungkin Timur Tengah akan memasuki jeda dari kobaran perang. Tapi harapan itu runtuh hanya dal…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Dunia baru saja menarik napas lega ketika gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan.
Harapan sempat muncul: mungkin Timur Tengah akan memasuki jeda dari kobaran perang.
Tapi harapan itu runtuh hanya dalam hitungan jam.
Pada 8 April 2026, Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Lebanon.
Sedikitnya 254 orang tewas, lebih dari 1.165 terluka.
Beirut kembali diguncang ledakan, rumah sakit lumpuh dibanjiri korban, dan dunia internasional pun bereaksi keras.
Dari Eropa, kemarahan datang terbuka.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menuduh Benjamin Netanyahu telah menghina nilai kehidupan dan hukum internasional, bahkan mendesak Uni Eropa menangguhkan hubungan asosiasi dengan Israel.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga bersuara tegas:
Lebanon, katanya, seharusnya sepenuhnya masuk dalam cakupan gencatan senjata.
Baginya, serangan ini adalah ancaman langsung bagi perdamaian yang baru saja dirintis.
Turkiye menilai serangan itu sebagai sabotase terhadap upaya damai.
Mesir menyebutnya sebagai langkah sembrono yang menyeret kawasan menuju kekacauan total.
Qatar mengecamnya sebagai eskalasi brutal dan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
Dari markas PBB, alarm bahaya juga dibunyikan.
Sekjen António Guterres melalui jajaran PBB mengecam serangan terhadap wilayah sipil dan pasukan penjaga perdamaian, menegaskan bahwa tindakan semacam itu dapat masuk kategori kejahatan perang.
Namun yang paling mencolok adalah pecahnya perbedaan tafsir soal gencatan senjata. Amerika Serikat membela Israel.
Presiden Donald Trump menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran, dengan alasan Hizbullah adalah entitas terpisah.
Israel pun memakai argumen yang sama: perang melawan Hizbullah tetap berjalan.
Sebaliknya Iran dan Pakistan membantah keras.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa penghentian perang di Lebanon adalah bagian eksplisit dari kesepakatan.
Pakistan, yang menjadi mediator utama, juga menyatakan hal serupa: Lebanon memang termasuk dalam cakupan perjanjian.
Di sinilah letak retaknya: satu dokumen, dua tafsir, dan ratusan nyawa menjadi korban.
Iran bahkan memperingatkan, jika serangan ke Lebanon terus dilanjutkan, respons balasan bisa datang. Penutupan sementara Selat Hormuz menjadi sinyal bahwa konflik ini bisa meluas jauh melampaui Beirut.
Kini dunia melihat satu fakta yang sulit dibantah:
serangan Israel ke Lebanon bukan hanya mengguncang Beirut, tetapi juga mengguncang kredibilitas seluruh proses diplomasi yang baru saja dibangun.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang benar dalam tafsir gencatan senjata—melainkan apakah Amerika Serikat mampu mengendalikan sekutunya sendiri, sebelum api perang menjalar ke front yang lebih luas dan lebih mematikan.
FB: Firman Syah
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.