Fakta Nasional

Erdogan Disebut Gagalkan Rencana CIA-Mossad Senjatai Kurdi

FAKTANASIONAL.NET - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan disebut berhasil menghalangi rencana Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk mempersenjatai kelompok Kurdi dalam upaya menggulingkan pemerintahan Iran. Menurut pejabat yang mengetahui rencana ter…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 19 August 2026 📖 1 menit
Erdogan Disebut Gagalkan Rencana CIA-Mossad Senjatai Kurdi
Erdogan Disebut Gagalkan Rencana CIA-Mossad Senjatai Kurdi/(Foto:AFP/GABRIEL BOUYS)
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan disebut berhasil menghalangi rencana Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk mempersenjatai kelompok Kurdi dalam upaya menggulingkan pemerintahan Iran.

Menurut pejabat yang mengetahui rencana tersebut, CIA dan Mossad sempat membahas operasi yang melibatkan ribuan milisi Kurdi dari Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG) di Irak.

Pasukan tersebut direncanakan bergerak menuju Iran dengan dukungan perlindungan udara AS.

Informasi tersebut dilaporkan The Telegraph dan dikutip CNN Indonesia, Rabu (19/8/2026).

Skenario itu muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi Gedung Putih pada Februari lalu.

Pasukan Kurdi diharapkan menyeberang dari Kurdistan Irak ke Iran untuk memicu pemberontakan dan mendorong perubahan pemerintahan di Teheran.

Erdogan menolak rencana tersebut karena menilai persenjataan terhadap kelompok Kurdi dapat membahayakan keamanan Turki.

Erdogan bahkan disebut menyampaikan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa "ia tidak akan mentolerir kemerdekaan Kurdi di mana pun di wilayah tersebut".

Ia juga memperingatkan bahwa mempersenjatai Kurdi dapat membuat "sebagian besar musuh politiknya menjadi bersenjata dan berbahaya" di perbatasan timur Turki.

Enam faksi Kurdi Iran dilaporkan telah bergabung dan siap pada 18 Maret, menunggu persetujuan Trump.

Namun, sejumlah pejabat AS menilai invasi darat tersebut tidak realistis. The New York Times melaporkan Trump menyebut skenario itu "konyol" setelah mendapat pengarahan Direktur CIA John Ratcliffe.

Trump tetap bertemu pemimpin Kurdi pada 1 Maret, sementara Israel meningkatkan serangan terhadap sasaran militer di Iran barat.

Rencana itu kemudian melemah setelah detail operasi bocor ke media AS. Gedung Putih membantah AS mempersenjatai kelompok Kurdi.

Seorang pejabat senior Israel mengatakan intelijen tidak menjamin keberhasilan perubahan rezim. "Intelijen tidak menjanjikan bahwa (perubahan rezim) akan terjadi.

Mereka mengatakan bahwa Anda dapat meningkatkan kemungkinan atau peluang terjadinya hal itu," kata pejabat tersebut kepada The Telegraph.

Isu tersebut kembali dibahas Trump dan Netanyahu pada 28 Juli. Netanyahu disebut masih meyakini perubahan rezim mungkin terjadi, tetapi gagal meyakinkan Trump.

Pada akhirnya, Trump disebut lebih memilih blokade ekonomi jangka panjang daripada serangan udara terhadap Iran.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK