Fakta Nasional

Gencatan Senjata Berumur Jagung? Trump Ancam Tarif 50 Persen Blokir Senjata ke Iran!

FAKTANASIONAL.NET - Hanya dalam hitungan jam setelah menyepakati gencatan senjata selama 14 hari dengan Iran yang dimediasi Pakistan pada 7 April lalu, Presiden AS Donald Trump kembali memanaskan situasi global. Lewat gaya khas diplomasinya, Trump m…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 10 April 2026 📖 1 menit
Gencatan Senjata Berumur Jagung? Trump Ancam Tarif 50 Persen Blokir Senjata ke Iran!
Donald Trump/(instagram)

FAKTANASIONAL.NET - Hanya dalam hitungan jam setelah menyepakati gencatan senjata selama 14 hari dengan Iran yang dimediasi Pakistan pada 7 April lalu, Presiden AS Donald Trump kembali memanaskan situasi global.

Lewat gaya khas diplomasinya, Trump melontarkan ancaman serius berupa tarif impor raksasa sebesar 50 persen bagi negara mana pun yang nekat memasok senjata ke Teheran.

Mengutip laporan AlJazeera pada Jumat 10 April 2026, Trump dengan tegas menyatakan bahwa aturan tarif tersebut akan langsung berlaku tanpa ada pengecualian.

Langkah mengejutkan ini diklaimnya sebagai kemenangan mutlak, meski kenyataannya jalur perdagangan di Selat Hormuz masih berada dalam ketegangan tinggi.

Banyak analis geopolitik melihat manuver ini bukan sekadar kebijakan ekonomi biasa. Trump disinyalir tengah menekan China agar ikut menjamin keamanan jalur Selat Hormuz, sekaligus memberikan peringatan keras kepada Moskow dan Beijing.

Tujuannya jelas, AS tidak ingin kedua negara raksasa tersebut memanfaatkan masa jeda perang untuk menyuplai ulang gudang senjata Iran yang sempat hancur akibat serangan militer AS beberapa pekan sebelumnya.

Meski terdengar menakutkan bagi rantai pasok global, ancaman Trump ini ternyata membentur tembok realitas politik domestik. Keputusan Mahkamah Agung AS sebelumnya telah memangkas wewenang presiden dalam menggunakan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA). Tanpa jalur cepat tersebut, pemberlakuan tarif harus melewati proses legislasi panjang yang memakan waktu berbulan-bulan.

Para pakar cenderung menyimpulkan bahwa gertakan tarif ini hanyalah instrumen negosiasi, bukan kebijakan final yang siap dieksekusi. Josh Lipsky dari Atlantic Council menyebut ancaman ini sebagai bahasa sandi untuk Beijing agar tetap sejalan menjelang pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping.

Jika dipaksakan, tarif ini bisa menjadi bumerang yang menghantam warga AS sendiri lewat lonjakan harga barang pokok.

Wall Street pun merespons panas kabar ini dengan volatilitas tinggi. Langkah ini lebih terlihat murni sebagai taktik tekanan maksimum di meja perundingan.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK