Hapus Ironi Kelangkaan, Presiden Prabowo Perintahkan Koperasi Garap Industri Sawit hingga Jadi Minyak Goreng
FAKTANASIONAL.NET — Pemerintah bersiap melakukan perombakan besar-besaran dalam tata niaga industri kelapa sawit nasional. Mulai tahun ini, koperasi akan dilibatkan secara penuh di seluruh rantai bisnis sawit, mulai dari pengelolaan perkebunan, peng…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET — Pemerintah bersiap melakukan perombakan besar-besaran dalam tata niaga industri kelapa sawit nasional.
Mulai tahun ini, koperasi akan dilibatkan secara penuh di seluruh rantai bisnis sawit, mulai dari pengelolaan perkebunan, pengolahan Crude Palm Oil (CPO), hingga produksi minyak goreng jadi.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan bahwa langkah strategis ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Tujuannya agar koperasi dan petani sawit rakyat tidak lagi sekadar menjadi penonton di sektor hulu, melainkan turut memotong dan menikmati kue keuntungan dari nilai tambah industri hilir.
"Kalau yang kemarin kan semuanya swasta, kebunnya swasta, CPO-nya swasta, produk turunannya swasta. Sekarang atas arahan Bapak Presiden, koperasi itu harus terlibat bukan hanya di kebun tapi juga ikut terlibat di proses produksinya sampai ke produk turunannya," kata Ferry dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (4/7/2026).
Mengakhiri Ironi Petani Sawit di Tanah Sendiri
Ferry mengungkapkan, kebijakan ini lahir sebagai jawaban atas jeritan para petani sawit di daerah.
Selama ini, banyak petani yang mengeluhkan ironi di mana mereka kesulitan mendapatkan minyak goreng di pasar, padahal mereka sendiri yang menanam dan memanen bahan baku buah sawitnya.
Melalui penguatan peran koperasi, mata rantai ketergantungan tersebut akan diputus. Dengan memiliki pabrik pengolahan mandiri, koperasi tidak perlu lagi menjual buah sawit mentah dengan harga yang bergantung pada pabrik kelapa sawit milik swasta.
Baca Juga: Dugaan Manipulasi Ekspor CPO Wilmar Mencuat: Pengamat Desak Pemerintah Pertegas Hukum
Hasil olahan CPO tersebut nantinya akan langsung diproses menjadi produk turunan, seperti minyak makan merah hingga minyak goreng konsumsi, yang akan didistribusikan secara masif ke masyarakat lewat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
"Jadi kita tidak bergantung lagi dengan pabrik-pabrik CPO yang dimiliki oleh pihak yang lain. Jadi koperasi bisa lebih mandiri dan harapannya nanti hasil produk turunannya bisa minyak makan merah atau minyak goreng dan sebagainya, dan hasil produksinya kalau nanti bisa sampai ke minyak goreng," jelas Ferry.
Pabrik CPO Koperasi Perdana Siap Beroperasi di Musi Banyuasin
Bukan sekadar rencana di atas kertas, hilirisasi sawit berbasis koperasi ini akan segera mengudara dalam waktu dekat.
Kementerian Koperasi menjadwalkan peresmian pabrik CPO perdana milik koperasi yang terletak di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Proyek percontohan skala besar ini didukung oleh hamparan lahan perkebunan yang luas serta kapasitas mesin produksi yang mumpuni untuk bersaing di industri modern.
"Kami nanti akhir bulan Juli atau awal Agustus kami akan melaksanakan peresmian pabrik CPO oleh koperasi di Musi Banyuasin dengan luas lahan 3.100 hektare (ha) dengan kemampuan produksi 60 ton per jam," pungkas Ferry.
Langkah konkret ini diharapkan menjadi batu loncatan awal bagi kebangkitan ekonomi kerakyatan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional langsung dari komoditas unggulan tanah air.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Dugaan Manipulasi Ekspor CPO Lewat Broker Singapura
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.