Fakta Nasional

Harga Minyak Dunia Anjlok: Brent dan WTI Tertekan Kekhawatiran OPEC+ dan Perang Dagang

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Pada perdagangan Selasa (29/4/2025) waktu AS atau Rabu pagi WIB, harga minyak dunia mencatat penurunan terparah dalam dua pekan terakhir. Kontrak Juli 2025 untuk Brent ditutup di US$ 64,25 per barel, turun US$ 1,61 (-2,4…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 30 April 2025 📖 1 menit
Harga Minyak Dunia Anjlok: Brent dan WTI Tertekan Kekhawatiran OPEC+ dan Perang Dagang
Harga minyak mentah Brent dilaporkan anjlok kembali ke level sebelum konflik di kisaran 72 dolar AS per barel akibat melimpahnya pasokan dan penurunan permintaan dari China./(Ilustrasi/@pixabay)

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Pada perdagangan Selasa (29/4/2025) waktu AS atau Rabu pagi WIB, harga minyak dunia mencatat penurunan terparah dalam dua pekan terakhir.

Kontrak Juli 2025 untuk Brent ditutup di US$ 64,25 per barel, turun US$ 1,61 (-2,4%), sementara WTI terjun US$ 1,63 (-2,6%) ke US$ 60,42 per barel.

Anjloknya harga sejak 10 April ini dipicu oleh spekulasi lonjakan produksi OPEC+ dan memburuknya sentimen global akibat eskalasi perang dagang AS-China.

Pasar semakin waspada terhadap rencana OPEC+ yang berpotensi menaikkan kuota produksi pada pertemuan Juni mendatang, menambah pasokan global.

Selain itu, lonjakan ekspor Kazakhstan sebesar 7% pada kuartal I-2025 lewat jalur pipa Caspian menambah tekanan persediaan.

Sementara itu, kebijakan tarif agresif Presiden Donald Trump memicu kekhawatiran terjadinya resesi global, yang secara langsung menurunkan permintaan energi.

Investor kini menantikan rilis data cadangan minyak AS dari API dan EIA. Jika stok naik lagi sebesar 500.000 barel, ini akan menjadi kenaikan kelima berturut-turut, yang dapat memperpanjang tren bearish.

Ditambah, aksi korporasi seperti pemangkasan 20.000 pekerja UPS dan penundaan outlook GM menambah ketidakpastian makroekonomi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan fundamental dan geopolitik masih mendominasi pergerakan harga minyak.

Dalam jangka pendek, volatilitas harga minyak akan tetap tinggi seiring negosiasi OPEC+ dan dinamika perang dagang.

Pelaku pasar disarankan memantau data cadangan dan perkembangan kebijakan untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK