Fakta Nasional

Houthi, Tentara Kampung yang Bikin Saudi Keteteran

KITA tinggalkan sejenak soal dalam negeri. Kita jalan-jalan ke negeri para habib, Yaman. Di sana, ada tentara kampung, Houthi dikabarkan menguasai pintu masuk Laut Merah. Arab Saudi pusing tujuh keliling. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Thursday, 17 September 2026 📖 3 menit
Houthi, Tentara Kampung yang Bikin Saudi Keteteran
Houthi, Tentara Kampung yang Bikin Saudi Keteteran/Foto Ai hanya ilustrasi
) -->

KITA tinggalkan sejenak soal dalam negeri. Kita jalan-jalan ke negeri para habib, Yaman. Di sana, ada tentara kampung, Houthi dikabarkan menguasai pintu masuk Laut Merah. Arab Saudi pusing tujuh keliling. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Ada ironi besar dalam perang Yaman. Di satu sisi berdiri Arab Saudi. Kerajaan kaya raya, uangnya seperti sumur tidak berdasar. Mau beli jet tempur, bisa. Rudal, bisa. Radar, drone, satelit, sistem pertahanan udara, tinggal tanda tangan kontrak. Tentara Saudi dibekali teknologi perang modern, persenjataan canggih, dan dukungan sekutu kelas dunia.

Di sisi lain ada Houthi.

Kalau memakai kacamata perang modern, Houthi ibarat tentara kampung. Kecil, hidup di negeri lama dihantam perang, infrastrukturnya terbatas, persenjataannya tidak sekelas gudang senjata Saudi. Tetapi tentara kampung ini rupanya punya satu penyakit berbahaya, tidak tahu kapan harus menyerah.

Di situlah ceritanya menjadi absurd. Saudi punya uang. Houthi punya ketahanan. Saudi punya pesawat canggih. Houthi punya rudal dan drone terus muncul seperti nyamuk habis hujan. Saudi punya teknologi. Houthi punya medan perang dan kesabaran.

Hasilnya? Yang punya uang justru kelihatan keteteran.

Pertengahan September 2026, Houthi berhasil melakukan ofensif cepat di pesisir Laut Merah Yaman. Pelabuhan strategis Mocha atau Mokha direbut dari pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi. Mereka kemudian bergerak ke selatan, menguasai hampir seluruh garis pantai barat Yaman, kawasan sekitar Bab al-Mandab. Pulau Perim atau Mayyun serta Hanish dan Zuqar pun mereka kuasai.

Bab al-Mandab bukan sembarang selat. Sekitar 8–12 persen perdagangan laut global melewati jalur ini, termasuk minyak, gas alam cair, dan kontainer. Ketika Houthi semakin kuat di sana, yang mulai kering bukan cuma tenggorokan orang Saudi, tetapi juga keringat perusahaan pelayaran.

Lebih lucu lagi, Saudi bukan tidak punya kemampuan militer. Justru sebaliknya. Mereka memiliki kekuatan udara modern dan sumber daya finansial memungkinkan membeli hampir semua jenis persenjataan tersedia di pasar internasional.

Tetapi perang tidak selalu tunduk kepada kalkulator. Sejak Agustus 2026, Houthi merebut ribuan kilometer persegi wilayah menurut klaim mereka, termasuk basis militer dan pelabuhan penting. Pasukan pemerintah Yaman mundur di sejumlah titik pesisir. Serangan udara Saudi memang dilakukan, termasuk kontra-serangan di sekitar Taiz dan Bab al-Mandab. Namun Houthi tetap mempertahankan kontrol efektif atas pesisir Laut Merah.

Kemudian rudal dan drone Houthi menyasar wilayah Saudi, termasuk Khamis Mushait, Abha, dan Taif. Sedikitnya 13 warga sipil terluka. Sementara rumah dan kendaraan mengalami kerusakan. Peringatan darurat muncul di Mekkah, Jeddah, dan Taif.

Di sinilah ironi itu berubah menjadi bahan tertawaan sejarah. Arab Saudi bisa membeli senjata paling mahal, tetapi Houthi yang dianggap kecil justru mampu membuat kerajaan kaya raya itu sibuk mencari cara untuk membendung mereka.

Muncul laporan, Saudi dikabarkan meminta bantuan Israel. Kalau benar, kerajaan dengan kekuatan finansial raksasa, tentara modern, persenjataan canggih, dan dukungan Amerika, akhirnya harus mencari tambahan tenaga untuk menghadapi kelompok secara ekonomi dan militer jauh lebih kecil.

Sementara itu, Mohammed bin Salman atau MBS dilaporkan menelepon Donald Trump dua kali pada 11 September 2026, meminta serangan udara langsung AS terhadap posisi Houthi. Trump menolak karena fokus Washington masih tertuju pada Iran dan Selat Hormuz.

Amerika hanya menawarkan dukungan tidak langsung berupa intelijen, data targeting, serta sekitar 200 personel militer AS di Saudi untuk bantuan non-kinetic. Komandan CENTCOM Admiral Brad Cooper juga bertemu pejabat Saudi.

So, kalau perang adalah laga sepak bola, Saudi datang membawa stadion, sepatu emas, teknologi VAR, bus mewah, dan pemain bergaji fantastis. Houthi datang membawa sandal, tekad, dan entah dari mana tiba-tiba mencetak gol.

Filosofinya sederhana. Senjata mahal bisa menghancurkan banyak benda, tetapi belum tentu menghancurkan kemauan bertahan.

Houthi mungkin miskin, kecil, dan tertinggal. Tetapi mereka membuktikan satu hal sering dilupakan negara kaya, perang bukan sekadar siapa punya senjata paling mahal. Kadang-kadang, yang paling merepotkan justru tentara kampung yang tidak punya cukup uang untuk membeli rasa takut.

“Bang, mereka itu bertetangga, satu keyakinan, kiblat sama, kitab sucinya pun sama. Kenapa mereka suka sekali berperang.”

“Mungkin DNA nya suka perang kali, wak. Untung saja, kita dengan jiran hidup damai dan tenteram.”

Penulis: Rosadi Jamani 


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK