Fakta Nasional

Ini BRIN, Loh… Masa Bikin Sepatu Rp75 Ribu

FAKTANASIONAL.NET - Sebuah produk sederhana mendadak menjadi bahan perdebatan nasional. Produk itu adalah sepatu berbahan karet yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan diperkenalkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Sepatu ters…

Penulis: Djono W Oesman Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 22 August 2026 📖 3 menit
Ini BRIN, Loh… Masa Bikin Sepatu Rp75 Ribu
Sepatu produk BRIN. Foto: RRI

FAKTANASIONAL.NET - Sebuah produk sederhana mendadak menjadi bahan perdebatan nasional. Produk itu adalah sepatu berbahan karet yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan diperkenalkan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Sepatu tersebut disorot setelah diperkenalkan dalam pameran hasil riset di Istana Kepresidenan Jakarta, 6 Agustus 2026. Produk itu disebut menggunakan material karet lokal dan ditargetkan dapat dijual mulai sekitar Rp75.000 per pasang.

Secara teknis, produk tersebut bukan sekadar sepatu biasa. BRIN menjelaskan bahwa sepatu itu menggunakan teknologi one piece injection molding, sehingga bagian sol dan bagian atas sepatu dapat menyatu tanpa menggunakan lem. Produk tersebut dirancang agar ringan, empuk, dan tahan lama.

Namun, di media sosial, sebagian warganet justru mempertanyakan mengapa lembaga riset negara banyak mendapat perhatian publik melalui produk seperti sepatu, genteng, makanan olahan, dan berbagai produk kebutuhan sehari-hari.

Pertanyaan tersebut sebenarnya bukan kritik terhadap sepatu itu sendiri.

Sepatu murah tentu bermanfaat. Jika produk tersebut benar-benar dapat membantu masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, menggunakan bahan baku lokal, dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, maka riset tersebut memiliki nilai ekonomi.

Persoalannya adalah bagaimana masyarakat menilai prioritas lembaga riset nasional. Ini BRIN, loh. Kok, menghasilkan sepatu, yang dianggap masyarakat terlalu sederhana.

BRIN merupakan lembaga yang membawa nama besar riset dan inovasi nasional. Karena itu, masyarakat tentu berharap hasil risetnya tidak hanya menghasilkan produk yang terlihat sederhana, tetapi juga menghasilkan teknologi yang dapat memperkuat industri, meningkatkan produktivitas, mengurangi ketergantungan impor, serta menjawab persoalan strategis bangsa.

Inilah inti kritik yang muncul di media sosial.

Sejumlah warganet mempertanyakan apakah riset semacam sepatu karet sudah mencerminkan skala prioritas lembaga penelitian nasional. Ada pula yang mempertanyakan hubungan antara besarnya anggaran negara untuk riset dengan produk yang kemudian diperlihatkan kepada publik.

Kritik tersebut perlu dibaca secara hati-hati.

Sebuah produk sederhana tidak otomatis berarti penelitian yang buruk. Banyak teknologi besar justru berawal dari produk sederhana.

Sepatu, misalnya, memiliki rantai industri yang panjang, mulai dari bahan baku, desain, teknologi produksi, ketahanan material, hingga pemasaran.

Jika BRIN berhasil mengembangkan teknologi produksi sepatu murah yang kemudian dapat digunakan industri nasional dalam jumlah besar, dampaknya bisa jauh lebih luas daripada sekadar sepasang sepatu.

Karena itu, persoalan sebenarnya bukan "mengapa BRIN membuat sepatu?"

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: "Apa dampak riset tersebut bagi masyarakat dan industri Indonesia?"

Pertanyaan kedua adalah: apakah teknologi tersebut nantinya dapat diproduksi secara massal? Apakah industri dalam negeri akan memperoleh manfaat? Apakah harga Rp75.000 benar-benar realistis setelah produksi massal, distribusi, pajak, dan keuntungan industri dihitung?

Jika jawabannya positif, kritik warganet mungkin justru dapat menjadi kesempatan bagi BRIN untuk menjelaskan hasil risetnya secara lebih baik.

Lembaga negara sering kali menghadapi persoalan komunikasi publik. Masyarakat melihat produk akhirnya, tetapi tidak melihat proses penelitian yang panjang di belakangnya.

Sebaliknya, lembaga penelitian terkadang menjelaskan teknologi dengan bahasa yang terlalu teknis sehingga publik tidak memahami manfaatnya.

Karena itu, BRIN sebaiknya tidak sekadar menunjukkan produk kepada Presiden atau wartawan. BRIN perlu menjelaskan apa masalah nasional yang hendak diselesaikan, berapa biaya risetnya, berapa nilai ekonominya, dan bagaimana hasil penelitian itu akan masuk ke industri.

Dengan cara tersebut, masyarakat dapat menilai secara objektif.

Kritik warganet mengenai sepatu BRIN sebenarnya menunjukkan sesuatu yang positif: publik semakin ingin mengetahui ke mana arah uang negara digunakan.

Masyarakat tidak cukup hanya diberi informasi bahwa sebuah lembaga menghasilkan inovasi. Masyarakat juga ingin mengetahui apakah inovasi tersebut menghasilkan manfaat nyata buat masyarakat.

Jika sepatu karet Rp75.000 kelak mampu membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan alas kaki murah, sekaligus menghidupkan industri karet dan manufaktur dalam negeri, maka produk itu bukan hal kecil.

Sebaliknya, jika inovasi berhenti pada pameran, seremoni, dan pemberitaan, kritik publik akan tetap muncul.

Karena itu, kritik terhadap BRIN sebaiknya tidak dijawab dengan kemarahan. Jawaban terbaik adalah data, transparansi, dan hasil nyata. (*)

 


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK