Iran Isyaratkan Perubahan Sikap soal Senjata Nuklir Usai Diserang AS
FAKTANASIONAL.NET - Iran mengisyaratkan kemungkinan meninjau kembali sikapnya terhadap kepemilikan senjata nuklir setelah serangan Amerika Serikat (AS) terhadap negara tersebut. Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Iran mengisyaratkan kemungkinan meninjau kembali sikapnya terhadap kepemilikan senjata nuklir setelah serangan Amerika Serikat (AS) terhadap negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mayor Jenderal Mohsen Rezaei pada Senin, 24 Agustus 2026.
Dikutip dari SINDOnews, Rezaei menilai serangan AS memperkuat argumen bahwa senjata nuklir dapat dipandang sebagai alat pencegah.
Menurutnya, kepatuhan terhadap sistem non-proliferasi nuklir global tidak sepenuhnya mampu melindungi suatu negara dari ancaman serangan militer.
"Seluruh dunia berkata, 'Tunggu sebentar. Jadi, NPT tidak ada gunanya?'," kata Rezaei dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
"Ketika Amerika melancarkan perang semacam itu, orang-orang secara alami bertanya: Mengapa kita tidak mengupayakan senjata nuklir sendiri?" lanjutnya.
Rezaei yang merupakan mantan komandan tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) itu dikenal sebagai salah satu pejabat keamanan senior Iran sekaligus sosok yang disebut sebagai tangan kanan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Meski pernyataannya cukup tegas, Rezaei tidak mengatakan bahwa Iran telah mengambil keputusan untuk memproduksi senjata nuklir.
Selama ini, Teheran konsisten menyatakan program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai dan menolak pengembangan maupun penggunaan senjata atom.
Rezaei juga menyoroti rekam jejak Iran dalam mengikuti mekanisme pengawasan internasional.
Iran diketahui bergabung dalam Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan kemudian menerima kesepakatan nuklir 2015 yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa serangan militer AS telah memunculkan kembali perdebatan di internal Iran mengenai manfaat komitmen non-proliferasi dan kebutuhan membangun kemampuan pencegahan strategis.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.