Ketegangan di Teheran: Pezeshkian Ancam Copot Menlu Imbas Dominasi Garda Revolusi
FAKTANASIONAL.NET - Isu keretakan elite pemerintahan Iran semakin santer terdengar menyusul alotnya negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat. Dinamika politik internal yang memanas ini berpusat pada ancaman pemecatan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas A…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Isu keretakan elite pemerintahan Iran semakin santer terdengar menyusul alotnya negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat.
Dinamika politik internal yang memanas ini berpusat pada ancaman pemecatan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Melansir laporan eksklusif dari media independen Iran International pada 3 Mei 2026, Presiden Masoud Pezeshkian bersama Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dilaporkan meradang akibat manuver birokrasi sang menteri luar negeri.
Puncak kekesalan dua pucuk pimpinan eksekutif tersebut dipicu oleh sikap Araghchi yang dituding lebih patuh pada komando Garda Revolusi Iran (IRGC).
Sang menteri disinyalir kuat menjalankan instruksi krusial terkait dialog nuklir tanpa memberikan laporan perkembangan kepada presiden.
Berdasarkan penuturan sumber internal lingkungan pemerintahan kepada Iran International, Araghchi selama dua pekan terakhir justru berkoordinasi secara eksklusif dengan Komandan IRGC, Ahmad Vahidi.
Sikap ini dinilai menurunkan muruah Araghchi sebagai diplomat utama negara menjadi seakan hanya bertindak sebagai asisten pribadi Vahidi.
Presiden Pezeshkian secara tegas telah memperingatkan akan melengserkan pembantunya tersebut apabila insiden pembangkangan garis komando ini kembali terulang di masa mendatang.
Indikasi perpecahan di lingkaran dalam Teheran sejatinya telah mengemuka sebelumnya. Pada 28 Maret lalu, riak perselisihan antara Pezeshkian dan Vahidi telah mencuat.
Fokus perdebatan tajam saat itu menyoroti strategi penanganan konflik bersenjata dan dampak destruktifnya yang langsung memukul roda perekonomian rakyat.
Kondisi kepemimpinan yang karut-marut ini juga tidak luput dari pantauan dunia internasional. Mantan Presiden AS, Donald Trump, menyoroti fenomena faksionalisme ini sebagai biang keladi mandeknya perundingan.
Terdapat dua hingga tiga faksi, bahkan mungkin empat, di mana struktur kepemimpinan mereka beroperasi tanpa koordinasi," ungkap Trump menyentil krisis internal tersebut.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.