Fakta Nasional

Ketidakpastian Minyak Dunia: Harga Stabil di Level $60, Dihantui Ancaman Sanksi Rusia

INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Harga minyak dunia menunjukkan pergerakan stabil pada Kamis (13/11/2025) setelah sempat anjlok hampir 4 persen sehari sebelumnya. Kekhawatiran utama pasar adalah potensi kelebihan pasokan global yang berhadapan den…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 14 November 2025 📖 1 menit
Ketidakpastian Minyak Dunia: Harga Stabil di Level $60, Dihantui Ancaman Sanksi Rusia
Sumur Minyak/(pixabay)

INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Harga minyak dunia menunjukkan pergerakan stabil pada Kamis (13/11/2025) setelah sempat anjlok hampir 4 persen sehari sebelumnya. Kekhawatiran utama pasar adalah potensi kelebihan pasokan global yang berhadapan dengan ancaman sanksi baru Amerika Serikat (AS) terhadap entitas energi Rusia. Minyak mentah Brent naik tipis menjadi $63,01 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat tipis ke $58,69 per barel.

Para analis menilai, level harga di kisaran $60 per barel memiliki dasar yang cukup kuat. Salah satu penopang utamanya adalah potensi gangguan ekspor dari Rusia seiring pengetatan sanksi AS. Namun, kekhawatiran banjir pasokan masih menjadi sentimen negatif yang paling besar.

Tantangan Surplus dan Lonjakan Stok di AS

Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan adanya lonjakan stok minyak mentah yang jauh melampaui ekspektasi pasar, yaitu kenaikan sebesar 6,4 juta barel dalam satu pekan. Lonjakan stok ini memicu kekhawatiran oversupply atau kelebihan pasokan di pasar global. Situasi ini diperburuk oleh laporan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang kini memproyeksikan bahwa pasokan minyak global akan melampaui permintaan sepanjang tahun 2026.

Sanksi Lukoil dan Rekor Produksi Minyak Amerika

Di saat yang sama, Badan Energi Internasional (IEA) juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan pasokan minyak dunia, mengindikasikan bahwa surplus tahun depan bisa lebih besar dari perkiraan awal. Produksi minyak AS yang diperkirakan akan mencetak rekor baru tahun ini menambah tekanan berlimpahnya suplai. Di sisi geopolitik, sanksi AS terhadap perusahaan energi Rusia, Lukoil, yang akan berlaku pada 21 November 2025, melarang semua transaksi dengan perusahaan tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari tekanan berkelanjutan AS terhadap Kremlin terkait konflik di Ukraina, menambah lapisan ketidakpastian di pasar energi.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK