Fakta Nasional

Kiamat Batu Bara Menghantui Global dengan Kapasitas Baru Terendah dalam 20 Tahun

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Dalam beberapa tahun terakhir, dunia semakin menyadari bahwa pergeseran menuju energi bersih bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Laporan terbaru mengungkap bahwa kapasitas listrik batu bara baru mencapai titik teren…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Thursday, 03 April 2025 📖 1 menit
Kiamat Batu Bara Menghantui Global dengan Kapasitas Baru Terendah dalam 20 Tahun
Kiamat Batu Bara Menghantui Global dengan Kapasitas Baru Terendah dalam 20 Tahun/(ilustrasi/@pixabay)

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Dalam beberapa tahun terakhir, dunia semakin menyadari bahwa pergeseran menuju energi bersih bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Laporan terbaru mengungkap bahwa kapasitas listrik batu bara baru mencapai titik terendah dalam dua dekade terakhir.

Data dari Global Energy Monitor menunjukkan hanya 44 gigawatt (GW) yang diproduksi tahun lalu, angka terendah sejak 2004.

Meskipun tren ini menandakan transisi energi yang menjanjikan, peningkatan kapasitas baru yang masih melampaui penutupan pembangkit batu bara menunjukkan adanya tantangan yang harus segera diatasi.

Penurunan drastis kapasitas baru tidak hanya mencerminkan pergeseran kebijakan energi global, tetapi juga berdampak pada pasar tenaga listrik di negara-negara yang masih bergantung pada batu bara, seperti China dan India.

Di China, meskipun konstruksi pembangkit baru masih cukup tinggi, adanya penurunan izin baru merupakan sinyal positif untuk transisi energi bersih.

Sedangkan di India, proposal batu bara baru harus menghadapi tekanan dari upaya internasional untuk memenuhi target perjanjian iklim Paris.

Tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mengimbangi penurunan penggunaan di negara maju dengan pertumbuhan penggunaan di negara berkembang.

Perubahan iklim global semakin mendesak setiap negara untuk berhenti mengandalkan bahan bakar fosil.

Meski demikian, transisi ini tidak berjalan mulus karena masih terdapat kebutuhan mendesak untuk memenuhi permintaan listrik global.

Sektor kelistrikan yang menyumbang lebih dari sepertiga produksi listrik dunia harus segera beradaptasi agar target perubahan iklim dapat tercapai.

Banyak pihak menilai bahwa inovasi teknologi dan dukungan kebijakan dari pemerintah di negara-negara maju harus dirasakan oleh negara berkembang agar transisi energi ini berlangsung secara merata.

Indonesia, misalnya, telah menunjukkan komitmen dengan berbagai janji untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara.

Namun, tantangan besar masih ada, terutama dalam hal investasi dan infrastruktur pendukung energi terbarukan.[dit]

**


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK