Fakta Nasional

Kopilot Ini Sengaja Menjatuhkan Pesawat

FAKTANASIONAL.NET - Jatuhnya pesawat Germanwings Penerbangan 4U 9525 di wilayah pegunungan Alpen, Prancis, 24 Maret 2015 memilukan. Kini baru ketahuan bahwa itu tindakan yang disengaja. Dilansir dari BBC, pesawat tersebut jatuh pada 24 Maret 2015. J…

Penulis: Djono W Oesman Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 31 August 2026 📖 2 menit
Kopilot Ini Sengaja Menjatuhkan Pesawat
Bangkai pesawat Germanwings yang dijatuhkan kopilot. Foto: AFP

FAKTANASIONAL.NET - Jatuhnya pesawat Germanwings Penerbangan 4U 9525 di wilayah pegunungan Alpen, Prancis, 24 Maret 2015 memilukan. Kini baru ketahuan bahwa itu tindakan yang disengaja.

Dilansir dari BBC, pesawat tersebut jatuh pada 24 Maret 2015. Jatuhnya pesawat tersebut awalnya dianggap sebagai kecelakaan, namun ternyata memang disengaja oleh sang kopilot.

Jendela Pesawat Pecah, Penumpang Nyaris Terrsedot Keluar

Pesawat Airbus A320 tersebut sedang menempuh perjalanan dari Barcelona, Spanyol, menuju Duesseldorf, Jerman. Pesawat lepas landas dari Barcelona dan mendaki ke ketinggian 38.000 kaki dalam waktu setengah jam.

Pesawat melakukan kontak rutin terakhir dengan pengawas lalu lintas udara untuk meminta izin melanjutkan rute.

Setelah komunikasi ini, kapten pilot, Patrick Sonderheimer meninggalkan kokpit sebentar untuk pergi ke toilet. Ia menyerahkan kendali sepenuhnya kepada kopilot Andreas Lubitz.

Begitu sendirian di kokpit, Lubitz langsung mengunci pintu untuk mencegah kapten kembali masuk. Ia kemudian mengubah pengaturan autopilot secara manual dari ketinggian 38.000 kaki menjadi hanya 100 kaki.

Spontan, pesawat menukik turun dengan cepat selama hampir 10 menit. Penumpang panik. Otomatis terjadi perubahan tekanan Udara di dalam kabin secara mendadak.

Perketat Pemeriksaan Kru Pesawat, Bea Cukai Soetta: Sekarang Mereka Nggak Bisa Ngeles Lagi

Sementara itu, saat pesawat jatuh, tragedi ini awalnya dianggap sebagai sebuah kecelakaan.

Pengawas lalu lintas udara dan pertahanan udara Prancis mencoba menghubungi kokpit berulang kali namun tidak mendapatkan jawaban.

Rekaman suara kokpit (Cockpit Voice Recorder/CVR) merekam suara gedoran keras di pintu serta teriakan kapten yang berusaha mendobrak masuk. Suara itu diiringi bunyi alarm yang memperingatkan pilot untuk segera naik (pull up).

Kopilot Andreas Lubitz tetap diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meski suara napasnya yang teratur terdengar hingga akhir rekaman.

Perekam CVR berhenti sepenuhnya pada pukul saat pesawat menghantam lereng gunung dan hancur berkeping-keping.

Tak ada yang selamat dalam insiden ini. Tragedi ini menewaskan seluruh 150 orang di dalam pesawat, yang terdiri dari 144 penumpang dan 4 kru kabin. Termasuk Patrick Sonderheimer dan kopilot Andreas Lubitz.

Para korban mencakup 72 warga negara Jerman (termasuk 16 siswa sekolah yang sedang dalam perjalanan pulang) dan 51 warga negara Spanyol. Korban lainnya berasal dari berbagai negara seperti Inggris, Australia, Argentina, Amerika Serikat, Jepang, Kolombia, dan Belanda.

Data dari perekam data penerbangan (Flight Data Recorder/FDR) mengungkap temuan mengejutkan bahwa Lubitz diduga sempat mempraktikkan penurunan ketinggian darurat ini pada penerbangan rute sebaliknya (Duesseldorf ke Barcelona) beberapa jam sebelumnya.

Ia berulang kali mengubah pengaturan ketinggian ke 100 kaki saat kapten sedang keluar kokpit, lalu segera mengembalikannya ke pengaturan normal sebelum kapten kembali

Selain itu, penyelidik menemukan bukti bahwa kopilot berusia 27 tahun tersebut sempat dirawat karena depresi pada April 2009 sebelum mendapatkan lisensi pilotnya. Di rumahnya, polisi menemukan obat antidepresan serta surat keterangan sakit dari dokter yang disobek untuk hari kejadian. (*)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK