Fakta Nasional

Krisis Amerika dan Iran Berikan Pelajaran Penting, Kemenlu China: Seperti Penerapan Norma Internasional

FAKTANASIONAL.NET - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China mengatakan sejumlah pelajaran penting bisa diambil dari krisis Amerika Serikat (AS) dan Iran seperti penerapan norma internasional. "Konflik yang berlangsung lebih dari seratus hari itu tel…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Moch. Ade Maulidin Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 24 June 2026 📖 2 menit
Krisis Amerika dan Iran Berikan Pelajaran Penting, Kemenlu China: Seperti Penerapan Norma Internasional

FAKTANASIONAL.NET - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China mengatakan sejumlah pelajaran penting bisa diambil dari krisis Amerika Serikat (AS) dan Iran seperti penerapan norma internasional.

"Konflik yang berlangsung lebih dari seratus hari itu telah mengguncang stabilitas kawasan dan dunia, serta memberikan pelajaran mendalam bagi kita, pertama, pentingnya menegakkan aturan internasional," kata Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Wang Yi.

Pertanyaan ini disampaikannya dalam Pertemuan Pejabat Senior Keamanan Nasional BRICS di New Delhi pada Selasa (23/6/2026) dikutip dari laman Kemenlu China di Beijing.

Sebelumnya, AS dan Iran mengumumkan kedua negara telah mencapai kesepahaman 14 poin yang dimediasi Pakistan pada 14 Juni 2026.

"Penyelesaian setiap isu penting regional dan internasional harus didasarkan pada kepatuhan terhadap aturan internasional. Hukum rimba mungkin berjaya untuk sementara, tetapi tidak akan bertahan lama," ujarnya.

Wang Yi meneruskan pelajaran lainnya adalah menghormati kedaulatan negara.

"Integritas teritorial tidak boleh diganggu gugat, dan urusan dalam negeri suatu negara tidak boleh dicampuri, ini adalah garis bawah moral paling dasar dalam hubungan internasional," ujarnya.

Selanjutnya, membangun konsep keamanan baru, sebab negara-negara di dunia kini semakin menjadi komunitas yang saling terikat oleh nasib yang sama.

"Mencari keamanan absolut bagi diri sendiri dengan mengorbankan keamanan negara lain justru akan menjadi bumerang bagi diri sendiri," ucapnya.

Lalu, penting untuk memahami perang dalam bentuk baru diutarakan Wang Yi.

"Dalam berbagai pertempuran belakangan ini, perang informasi, perang siber, dan bentuk-bentuk perang non-tradisional lainnya semakin terbuka dan nyata. Kita kini menghadapi ancaman keamanan tradisional dan non-tradisional yang saling terkait erat," tuturnya.

Dengan begitu negara-negara Brazil, Russia, India, China, South Africa (BRICS) diminta memperkuat dialog dan kerja sama di bidang keamanan.

Kesepakatan tahap pertama antara AS dan Iran bertujuan mengakhiri perang dan menyelesaikan berbagai perselisihan yang masih tersisa melalui dialog dan negosiasi.

Nota kesepahaman yang dikenal sebagai Kesepahaman Islamabad ini mulai berlaku pada 18 Juni setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Kesepakatan itu meliputi sejumlah ketentuan terkait penghentian perang seperti Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran.

Kemudian, pada Ahad (21/6/2026) perundingan AS-Iran, yang dimediasi Pakistan dan Qatar pun dimulai yang bertujuan membuka jalan bagi penghentian permanen perang antara AS, Israel, dan Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, mengatakan keberhasilan perundingan yang sedang berlangsung dengan AS bergantung pada pelaksanaan penuh komitmen yang telah disepakati.

Pernyataan-pernyataan yang disampaikan di luar kerangka kesepakatan tidak membantu kemajuan negosiasi tersebut.

"Keefektifan pembicaraan (dengan AS) bergantung pada komitmen penuh terhadap kewajiban-kewajiban yang disepakati dan pelaksanaannya dengan tepat," tulisnya di X pada Selasa (23/6/2026). (adm)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK