Fakta Nasional

Lebih dari 100 Penasihat Militer AS Disebut Bantu Saudi Hadapi Houthi

FAKTANASIONAL.NET - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah lebih dari 100 penasihat militer Amerika Serikat (AS) diklaim berada di Arab Saudi untuk membantu kerajaan tersebut menghadapi kelompok Houthi di Yaman. Para personel A…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 12 September 2026 📖 2 menit
Lebih dari 100 Penasihat Militer AS Disebut Bantu Saudi Hadapi Houthi
Lebih dari 100 Penasihat Militer AS Disebut Bantu Saudi Hadapi Houthi/(Foto: REUTERS)
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah lebih dari 100 penasihat militer Amerika Serikat (AS) diklaim berada di Arab Saudi untuk membantu kerajaan tersebut menghadapi kelompok Houthi di Yaman.

Para personel AS disebut memberikan dukungan intelijen dan penargetan kepada militer Saudi.

Namun, keterlibatan mereka memiliki batasan: pasukan AS tidak ikut melakukan serangan secara langsung terhadap Houthi.

Dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (11/9/2026), salah satu pejabat AS menyebut jumlah personel yang terlibat dalam komando pasukan gabungan yang baru dibentuk mencapai sekitar 200 tentara.

Komando tersebut dibentuk dalam beberapa pekan terakhir ketika intensitas pertempuran antara Arab Saudi dan Houthi meningkat.

Washington juga melihat indikasi Iran memperbesar dukungannya kepada Houthi untuk melakukan serangan terhadap Arab Saudi.

Dalam kerja sama tersebut, AS membantu Saudi menggunakan perangkat penargetan yang memungkinkan perwira militer memantau kondisi medan perang secara real-time.

Salah satu pejabat AS membandingkan kemampuan itu dengan sistem Maven milik Pentagon.

Selain itu, AS disebut memberikan dukungan penargetan geospasial untuk membantu operasi Saudi terhadap Houthi.

Meski demikian, Washington tidak kembali memberikan dukungan operasional seperti pada periode sebelumnya.

Militer AS tidak membantu pengisian bahan bakar pesawat tempur Saudi maupun terlibat langsung dalam serangan.

Sejumlah sumber mengatakan dukungan tersebut diarahkan untuk memastikan operasi militer Saudi berlangsung efektif dan profesional.

Situasi semakin mengkhawatirkan setelah Houthi dilaporkan merebut pelabuhan strategis di Laut Merah pada Kamis (10/9).

Penguasaan wilayah tersebut dinilai dapat memperbesar kemampuan Houthi mengancam Selat Bab-el-Mandeb, jalur pelayaran penting menuju Samudra Hindia.

Pada awal pekan ini, Houthi juga melancarkan serangan rudal dan drone ke Arab Saudi yang dilaporkan menewaskan puluhan warga sipil.

AS meyakini terdapat ratusan personel Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Yaman yang bekerja sama dengan Houthi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut menyebut Iran berperan dalam serangan terhadap infrastruktur energi Saudi.

Namun, Washington berhati-hati karena militer AS sendiri masih terbebani perang dengan Iran, termasuk operasi di sekitar Selat Hormuz. Kekhawatiran terhadap korban sipil juga menjadi pertimbangan, mengingat dukungan penargetan AS pada masa lalu menuai kritik.

Salah satu sumber menegaskan perubahan pendekatan Washington dengan mengatakan, "Ini bukan zaman dahulu."[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK