Malaysia Akui Pemeriksaan KLIA Punya Celah, Kasus Pilot Bawa 26 Kg Narkoba Jadi Sorotan
FAKTANASIONAL.NET - Kasus pilot Malaysia Airlines yang ditangkap otoritas Indonesia karena diduga menyelundupkan narkoba memicu evaluasi terhadap sistem pemeriksaan di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), Malaysia. Menteri Dalam Negeri Malaysi…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Kasus pilot Malaysia Airlines yang ditangkap otoritas Indonesia karena diduga menyelundupkan narkoba memicu evaluasi terhadap sistem pemeriksaan di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), Malaysia.
Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Seri Saifuddin Nasution Ismail mengakui pemeriksaan barang di KLIA selama ini belum secara khusus berfokus mendeteksi barang selundupan seperti narkoba. Padahal, mesin pemindai yang digunakan sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengenali barang terlarang tersebut.
Pengakuan itu disampaikan Saifuddin menyusul penangkapan pilot Malaysia Airlines di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Pilot tersebut ditangkap otoritas Indonesia karena berupaya membawa masuk 26 kg atau sekitar 70.000 pil ekstasi dan metampfetamin.
Dikutip dari CNN Indonesia yang mengutip New Straits Times pada 10 Agustus 2026, Saifuddin menjelaskan persoalan bukan terletak pada keterbatasan mesin pemindai.
"Ini merupakan insiden penyelundupan. Ini bukan masalah kekurangan dari sisi mesin pemindai. Kami telah mendapat penjelasan dari Direktur Jenderal Malaysia Border Control and Protection Agency, Datuk Seri Mohd Shuhaily Mohd Zain, bahwa mesin pemindai kami memiliki kemampuan penuh," ucap Saifuddin dalam acara Star City FC Tour Send-off Ceremony di Dataran Putrajaya, Sabtu (8/8).
Saifuddin menyebut protokol pemeriksaan di KLIA selama ini lebih diarahkan untuk menemukan senjata, termasuk senjata api, benda tajam, dan bahan peledak.
"Hanya saja, cakupan pemeriksaan lebih berfokus pada senjata. Jadi, meskipun barang selundupan terdeteksi, ini merupakan area yang perlu diperbaiki, terutama dari sisi keahlian petugas yang melakukan pemeriksaan," ujarnya.
Pemeriksaan bagasi dilakukan Aviation Security dengan dukungan polisi tambahan dari Malaysia Airports Holdings Bhd sesuai standar internasional ICAO.
Pemerintah Malaysia menyatakan terbuka terhadap penggunaan teknologi pemeriksaan yang lebih mutakhir untuk menutup celah tersebut.
"Apakah ke depannya kami akan tetap menggunakan mesin yang ada saat ini? Tentu tidak. Ada berbagai jenis peralatan yang lebih canggih untuk sistem pemeriksaan di pintu masuk bandara dengan kemampuan yang jauh lebih tinggi. Jadi, kami selalu terbuka untuk mengadopsi jenis peralatan baru," katanya.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.