Fakta Nasional

Menjaga Lisan Dari Keburukan Sesama

FAKTANASIONAL.NET | Ada orang yang datang membawa cerita tentang keburukan orang lain, lalu tanpa sadar kita ikut memikul sesuatu yang bukan urusan kita. Kita mendengarkan, berprasangka, bahkan meneruskannya. Padahal, setiap ucapan memiliki konsekue…

Penulis: SAH Editor: Moh Sahlan 📍 Jakarta Pusat Saturday, 07 November 2026 📖 6 menit
Menjaga Lisan Dari Keburukan Sesama

FAKTANASIONAL.NET | Ada orang yang datang membawa cerita tentang keburukan orang lain, lalu tanpa sadar kita ikut memikul sesuatu yang bukan urusan kita. Kita mendengarkan, berprasangka, bahkan meneruskannya.

Padahal, setiap ucapan memiliki konsekuensi. Islam mengajarkan kita untuk menjaga lisan, memelihara kehormatan sesama, memeriksa kebenaran berita, serta menahan diri dari pembicaraan yang tidak mendatangkan manfaat dan justru melahirkan dosa.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada percakapan yang membicarakan kekurangan, kesalahan, atau aib orang lain. Cerita itu terkadang disampaikan dengan nada prihatin, seolah-olah kita sedang diajak memahami keadaan seseorang.

Namun, tanpa disadari, percakapan tersebut dapat berubah menjadi ghibah, prasangka buruk, bahkan fitnah apabila isinya tidak benar. Kita pun bisa terlibat dalam dosa bukan karena melakukan kesalahan yang diceritakan, melainkan karena ikut menyebarkannya.

Allah SWT memberikan peringatan tegas dalam Al-Qur'an tentang bahaya prasangka dan ghibah. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Perumpamaan dalam ayat tersebut sangat menggugah hati. Allah menggambarkan ghibah seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa kehormatan seseorang bukan sesuatu yang boleh dikoyak sesuka hati. Jika kita merasa jijik membayangkan perbuatan tersebut secara fisik, seharusnya kita juga merasa takut ketika lisan kita melukai kehormatan saudara sendiri.

Rasulullah SAW menjelaskan makna ghibah melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Beliau bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ.

Artinya: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.” Ada yang bertanya, “Bagaimana jika apa yang aku katakan itu memang ada pada diri saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang engkau katakan itu memang ada padanya, berarti engkau telah menggunjingnya. Jika apa yang engkau katakan itu tidak ada padanya, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim, no. 2589).

Hadis ini memberikan pelajaran penting bahwa kebenaran suatu cerita tidak otomatis menjadikan penyebarannya dibenarkan. Jika yang diceritakan benar tetapi berupa kekurangan yang tidak disukai orang tersebut, kita dapat terjatuh dalam ghibah.

Jika ceritanya tidak benar, kita menghadapi dosa yang lebih berat berupa kebohongan dan fitnah. Karena itu, sebelum berbicara, kita perlu menimbang bukan hanya benar atau tidaknya suatu informasi, melainkan juga manfaat, tujuan, dan akibat penyampaiannya.

Allah SWT juga mengajarkan agar manusia tidak mudah menerima dan menyebarkan berita tanpa pemeriksaan. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya membuat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini relevan dengan kehidupan kita, terutama ketika berita beredar begitu cepat melalui percakapan, grup pesan, dan media sosial. Satu kabar yang belum jelas dapat menjatuhkan nama baik seseorang, merusak persahabatan, bahkan memecah belah keluarga. Oleh sebab itu, sikap seorang Muslim bukan sekadar tidak berbohong, tetapi juga berhati-hati agar tidak menjadi perantara tersebarnya kebohongan dan kerusakan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari, no. 6018, dan Muslim, no. 47).

Diam dalam hadis ini bukan berarti kita harus membiarkan kezaliman atau menutup mata terhadap kesalahan. Diam merupakan pilihan ketika ucapan tidak membawa kebaikan, ketika informasi belum jelas, atau ketika pembicaraan hanya akan memperbesar permusuhan.

Sebaliknya, jika ada bahaya, kezaliman, atau hak seseorang yang perlu dilindungi, kita boleh menyampaikan informasi kepada pihak yang tepat dengan niat memperbaiki keadaan, bukan mempermalukan.

Karena itu, ketika seseorang datang membawa cerita buruk tentang orang lain, kita dapat belajar mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri: apakah aku perlu mengetahui hal ini? Apakah ada manfaat jika aku meneruskannya? Apakah orang yang dibicarakan sedang dizalimi sehingga membutuhkan pertolongan, ataukah aku sekadar menjadi pendengar bagi percakapan yang memuaskan rasa ingin tahu?

Jika pembicaraan tidak bermanfaat, kita dapat mengalihkan topik dengan santun. Jika cerita itu menyangkut aib seseorang, kita tidak perlu ikut mengorek lebih jauh. Jika kita mendengar tuduhan, jangan tergesa-gesa menghakimi. Dan jika seseorang benar-benar membutuhkan nasihat, sampaikanlah secara pribadi, dengan bahasa yang baik, serta berorientasi pada perbaikan.

Kita juga perlu mengingat bahwa setiap manusia memiliki kekurangan. Hari ini mungkin kita mendengar keburukan orang lain; esok hari, bukan mustahil orang lain membicarakan kekurangan kita.

Betapa tenangnya kehidupan jika setiap orang berusaha menjaga kehormatan saudaranya, sebagaimana ia berharap kehormatannya sendiri dijaga. Menutup aib bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan menolak menjadikan kesalahan sebagai bahan hiburan dan konsumsi publik.

Marilah kita membiasakan diri untuk tidak membawa setiap cerita ke dalam hati, apalagi meneruskannya kepada orang lain. Tidak semua yang kita dengar harus kita tanggapi, tidak semua yang kita ketahui harus kita sebarkan, dan tidak semua kesalahan orang lain harus kita jadikan pembicaraan. Terkadang, kemuliaan akhlak justru tampak ketika kita mampu menghentikan sebuah cerita sebelum berubah menjadi luka.

Semoga Allah SWT menjaga lisan dan hati kita dari prasangka, ghibah, fitnah, serta keinginan merendahkan sesama. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih gemar memperbaiki diri daripada mencari-cari kesalahan orang lain, lebih memilih mendamaikan daripada mengadu domba, dan lebih senang menyebarkan kebaikan daripada keburukan.

Sebab, lisan yang terjaga dapat menyelamatkan persaudaraan, sedangkan lisan yang tidak terkendali dapat menghancurkan kehormatan dan kepercayaan. Jangan sampai kita sibuk membicarakan dosa orang lain, tetapi lupa menghitung kesalahan diri sendiri.

Sebelum meneruskan cerita, berhentilah sejenak dan tanyakan kepada hati: apakah perkataanku mendekatkan manusia kepada kebaikan, atau justru menjauhkannya dari kasih sayang Allah?


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK