Fakta Nasional

Peluang Kerja Sama Militer AS–Arab Saudi untuk Penjualan 200 Unit MQ-9

INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Dalam kunjungan Presiden Donald Trump ke Teluk pekan lalu, salah satu kabar yang menarik perhatian dunia pertahanan adalah kemungkinan penjualan hingga 200 sistem tanpa awak MQ-9 dari General Atomics Aeronautical S…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 23 May 2025 📖 1 menit
Peluang Kerja Sama Militer AS–Arab Saudi untuk Penjualan 200 Unit MQ-9
Peluang Besar Kerja Sama Militer AS–Arab Saudi untuk Penjualan 200 Unit MQ-9/(ilustrasi/@dit-fkn)
) -->

INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Dalam kunjungan Presiden Donald Trump ke Teluk pekan lalu, salah satu kabar yang menarik perhatian dunia pertahanan adalah kemungkinan penjualan hingga 200 sistem tanpa awak MQ-9 dari General Atomics Aeronautical Systems (GA-ASI) kepada Arab Saudi.

Meski Gedung Putih belum membeberkan rincian paket senilai US$142 miliar yang diumumkan Trump, juru bicara GA-ASI, C. Mark Brinkley, menegaskan bahwa jet nirawak ini termasuk dalam total nilai tersebut.

GA-ASI telah lama berdialog dengan Pemerintah Saudi dan pihak White House mengenai paket yang “bisa” mencakup kombinasi desain MQ-9B SkyGuardian dan SeaGuardian.

Brinkley menambahkan, inisiatif sebesar itu diprediksi menciptakan 46.000 lapangan kerja baru di Amerika Serikat sekaligus memberikan dampak signifikan bagi ekonomi domestik.

Namun, apakah transaksi akan terealisasi melalui mekanisme Foreign Military Sale (FMS) atau Direct Commercial Sale (DCS) masih menunggu keputusan akhir pemerintah AS.

Sejatinya, pembicaraan mengenai penjualan MQ-9 ke Riyadh telah berlangsung jauh sebelum kunjungan Trump diumumkan.

Pada Februari lalu, Presiden GA-ASI David Alexander menyebutkan bahwa Saudi merupakan “potensi kesepakatan internasional terbesar” dalam sejarah perusahaan.

Meski Alexander belum membeberkan jumlah unit, pernyataan Brinkley kini menegaskan besarnya skala kerjasama tersebut.

Sementara itu, Qatar telah memulai pemesanan delapan unit MQ-9B lewat LOA (Letter of Acceptance), dan upaya melanjutkan transaksi serupa di Uni Emirat Arab sempat terhenti akibat kebijakan pemerintahan Biden.

Menurut Kristian Alexander, senior fellow di Rabdan Security and Defence Institute (UAE), permintaan 200 MQ-9 mencerminkan ambisi besar Arab Saudi untuk membangun arsitektur intelijen, pengawasan, dan serangan (ISR) berlapis.

Jumlah ini tidak hanya untuk misi taktis, melainkan perombakan total kekuatan udara serta integrasi antara sistem tak berawak dan berawak di seluruh cabang militer Saudi.

Di samping itu, langkah ini menegaskan kembali komitmen Riyadh pada interoperabilitas dengan sistem AS dan NATO, menggeser preferensi sementara pada Wing Loong (Cina) dan Bayraktar TB2 (Turki).[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK