Fakta Nasional

Perang Dagang AS-China Memanas: Trump Naikkan Tarif Impor Hingga 125% dan Dunia Terancam Dampaknya

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Perang dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memasuki babak baru yang lebih panas. Presiden Donald Trump mengejutkan dunia dengan kebijakan tarif resiprokal baru sebesar 125% terhadap produk-produk dari China ,…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 12 April 2025 📖 1 menit
Perang Dagang AS-China Memanas: Trump Naikkan Tarif Impor Hingga 125% dan Dunia Terancam Dampaknya
Eskalasi Perang Dagang AS-China/(ilustrasi/@pixabay)
) -->

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Perang dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memasuki babak baru yang lebih panas.

Presiden Donald Trump mengejutkan dunia dengan kebijakan tarif resiprokal baru sebesar 125% terhadap produk-produk dari China, hanya beberapa jam setelah China lebih dulu menaikkan tarif bea masuk sebesar 84% untuk barang-barang asal AS.

Ketegangan ini bukan hanya memicu kekhawatiran di antara pelaku ekonomi global, tetapi juga berisiko mengganggu stabilitas perdagangan internasional.

Langkah agresif Trump ini dinilai sebagai bagian dari strategi panjang Amerika Serikat dalam menghadapi kebangkitan ekonomi dan geopolitik China.

Selama lebih dari satu dekade, para pemimpin AS telah mencoba merestrukturisasi hubungan ekonomi dan aliansi keamanan demi menyeimbangkan dominasi China di kancah global.

Namun, tarif tinggi yang diberlakukan secara sepihak kepada China justru membuka celah bagi negeri Tirai Bambu itu untuk mengkonsolidasikan pengaruhnya di kawasan Asia dan dunia.

Yang menjadi sorotan tajam adalah keputusan Trump untuk menunda pemberlakuan tarif terhadap negara-negara sekutu seperti Uni Eropa dan Jepang selama 90 hari.

Hal ini membuat kebijakan dagang AS terlihat tidak konsisten dan diskriminatif. Akibatnya, mitra dagang utama AS merasa dikesampingkan, yang pada akhirnya bisa melemahkan posisi tawar AS dalam perdagangan internasional.

Sementara itu, China mengambil langkah berbeda. Alih-alih menutup diri, Beijing justru menyatakan komitmennya untuk membuka pasar domestik lebih luas kepada dunia, menjadikan dirinya sebagai alternatif bagi negara-negara yang kecewa dengan pendekatan proteksionis Washington.

Perang dagang ini telah berubah menjadi perebutan pengaruh global antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Kedua negara tidak hanya saling menaikkan tarif, tetapi juga mencoba mengeksploitasi kelemahan satu sama lain dalam upaya memperkuat posisi masing-masing.

Dalam pernyataan resmi, pemerintah China menegaskan bahwa dunia perlu menolak hegemoni dan menegakkan keadilan, yang secara tersirat ditujukan untuk menantang dominasi AS.

Dengan intensitas konflik dagang yang semakin meningkat, pertanyaannya kini adalah: Apakah dunia siap menghadapi dampak jangka panjang dari ketegangan ini, atau justru akan lahir tatanan ekonomi global yang baru?[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK