Perang Timur Tengah Berakhir, AS-Iran Sepakat Buka Total Selat Hormuz Jumat Ini
FAKTANASIONAL.NET — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sempat melumpuhkan jalur pasokan energi dunia akhirnya menemui titik terang. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka secara penuh pada…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sempat melumpuhkan jalur pasokan energi dunia akhirnya menemui titik terang.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka secara penuh pada Jumat (19/6/2026) mendatang, menyusul tercapainya kesepakatan bersejarah antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang.
Trump menyatakan bahwa aktivitas pelayaran di koridor minyak paling vital di dunia tersebut kini sudah berangsur normal.
"Kapal-kapal mulai bergerak, banyak yang bermuatan minyak, keluar dari Selat Hormuz," ujar Trump, sebagaimana dikutip dari AFP, Selasa (16/6/2026).
Media lokal Iran turut mengonfirmasi laporan tersebut dengan menyebut sedikitnya tiga kapal tanker minyak dan dua kapal kargo telah berhasil melewati titik wilayah yang sebelumnya sempat diblokade ketat oleh operasi angkatan laut Amerika Serikat.
Sebagai informasi, jalur Selat Hormuz sempat ditutup total oleh Teheran sejak awal pecahnya konflik pada 28 Februari lalu. Penutupan sepihak ini sempat memicu guncangan hebat pada harga minyak global dan mengobarkan kekhawatiran inflasi tinggi di berbagai negara.
Baca Juga: Babak Baru Timur Tengah: Blok Eropa Siap Cabut Sanksi Ekonomi Atas Iran
Detail Kesepakatan Elektronik: AS Siap Cairkan Aset Rp212 Triliun
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengungkapkan, draf perjanjian tersebut ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Di sela-sela agenda pertemuan G7 di Prancis, Trump berjanji akan segera merilis isi dokumen tersebut ke publik.
"Ini dokumen yang sangat kuat, dan saya ingin itu dirilis. Jadi mungkin segera," tegas Trump.
Meski rincian resmi belum dibuka menyeluruh, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, membeberkan bahwa Washington telah berkomitmen untuk mencairkan dana Iran yang dibekukan di luar negeri.
Kantor berita Mehr News Agency melaporkan, AS bakal melepaskan aset Iran senilai 12 miliar dollar AS atau setara dengan Rp212 triliun sebelum negosiasi lanjutan dimulai.
Di sisi lain, masa depan program nuklir Teheran juga masuk dalam radar tawar-menawar. Kepada The New York Times, Trump mengonfirmasi bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan opsi pembekuan aktivitas pengayaan nuklir Iran untuk jangka waktu 15 hingga 20 tahun ke depan.
Reaksi Beragam dari Teheran dan Tel Aviv
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyambut baik momentum ini karena menghasilkan penghentian perang secara langsung (immediate ceasefire). Kendati Presiden Iran Masoud Pezeshkian melabeli draf ini sebagai "pencapaian besar", Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi justru memilih bersikap skeptis dan berhati-hati.
"Kami memiliki sejarah komitmen yang dilanggar. Kami memiliki sejarah kesepakatan yang dibatalkan. Semua itu masih ada dalam pikiran kami," cetus Araghchi mengingatkan masa lalu.
Kekhawatiran juga membayangi jalannya implementasi kesepakatan di lapangan, mengingat perang ini melibatkan faksi Hizbullah di Lebanon.
Di pihak lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersikap defensif dan menegaskan bahwa tentara Israel (IDF) tetap akan bersiaga di Lebanon, Suriah, dan Gaza selama situasi dianggap membutuhkan.
Netanyahu mengeklaim, konfrontasi terbuka dengan Iran setidaknya telah berhasil menyelamatkan negaranya dari ancaman eksistensial kehancuran nuklir.
Pasar Keuangan Merespons Positif, Harga Minyak Dunia Anjlok
Kabar damai dari dua kekuatan besar ini langsung direspons instan oleh pasar finansial global.
Tekanan hebat pada sektor pasokan energi dunia diproyeksikan akan segera mereda mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi bagi mobilisasi 20 persen logistik minyak bumi dunia.
Indeks saham gabungan di bursa Wall Street, seperti Dow Jones dan Nasdaq, langsung mencatatkan reli penguatan signifikan, di mana Nasdaq melonjak hingga di atas tiga persen.
Sinyal positif ini berbanding terbalik dengan pergerakan komoditas energi. Harga minyak mentah dunia dilaporkan terjun bebas hingga hampir lima persen, merosot ke kisaran 80 dollar AS (sekitar Rp1,4 juta) per barrel.
Angka ini turun drastis dibandingkan saat puncak konflik luar biasa beberapa waktu lalu yang sempat melesat di atas 110 dollar AS (sekitar Rp1,9 juta) per barrel.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.