Produsen China Alihkan Pasar karena Tarif AS
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Dalam beberapa pekan terakhir, produsen di pusat-pusat ekspor utama China mengalami tekanan signifikan akibat kebijakan tarif Amerika Serikat (AS). Kenaikan bea masuk lebih dari 100% untuk produk China membuat pesanan ke…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Dalam beberapa pekan terakhir, produsen di pusat-pusat ekspor utama China mengalami tekanan signifikan akibat kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).
Kenaikan bea masuk lebih dari 100% untuk produk China membuat pesanan ke AS menurun drastis.
Cameron Johnson, mitra senior di Tidalwave Solutions, menyatakan bahwa beberapa pabrik merumahkan sebagian karyawan dan menghentikan sebagian produksi — terutama pada sektor mainan, peralatan olahraga, dan barang-barang murah yang biasa dijual di Dollar Store.
Goldman Sachs memperkirakan ada sekitar 10–20 juta pekerja China yang terlibat langsung dalam bisnis ekspor ke AS. Dari total 473,45 juta tenaga kerja di kota-kota Tiongkok pada tahun lalu, proporsi karyawan yang bergantung pada pesanan Amerika ini sangat besar.
Dengan dibatalkannya pesanan, ribuan pekerja di Yiwu dan Dongguan terancam kehilangan penghasilan, dipaksa cuti tak dibayar, atau bahkan di-PHK permanen.
Kebijakan tarif ini, menurut Ash Monga, CEO Imex Sourcing Services, berdampak lebih parah daripada pandemi Covid-19 bagi usaha kecil yang bergantung pada ekspor.
Untuk bertahan, sejumlah eksportir mulai merambah pasar domestik dengan memanfaatkan platform digital. Woodswool, produsen pakaian atletik di Ningbo, misalnya, beralih ke penjualan melalui siaran langsung (live streaming).
Setelah seminggu, mereka mencatat lebih dari 30 pesanan senilai total 5.000 yuan (US$ 690). Pemerintah pusat dan perusahaan teknologi Tiongkok pun mendorong inisiatif ini agar barang ekspor yang dibatalkan di AS dapat diserap pasar lokal.
Selain itu, Ash Monga meluncurkan situs “Bantuan Tarif” untuk membantu usaha kecil mencari alternatif pemasok di luar China.
Meski belum skala besar, tren peralihan produksi dan pemutusan pesanan ini berpotensi meningkat jika tarif tidak segera diturunkan.
Produsen China kini dihadapkan pada tantangan besar: merangkul digitalisasi dan diversifikasi pasar demi kelangsungan bisnis dan keberlangsungan pekerja.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.