Fakta Nasional

Program MBG Ala Trump di AS Mandek, Sekolah Kekurangan Dapur dan Anggaran

FAKTNASIONAL.NET - Program makanan bergizi gratis ala pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi kendala di sejumlah sekolah. Upaya mengurangi makanan ultra-olahan dan memperbanyak menu berbahan segar terbentur keterbatasan dapur,…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 07 October 2026 📖 2 menit
Program MBG Ala Trump di AS Mandek, Sekolah Kekurangan Dapur dan Anggaran
Donald Trump Klaim Keamanan Greenland di Pegang AS/Instagram
) -->

FAKTNASIONAL.NET - Program makanan bergizi gratis ala pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi kendala di sejumlah sekolah. Upaya mengurangi makanan ultra-olahan dan memperbanyak menu berbahan segar terbentur keterbatasan dapur, peralatan, tenaga kerja, serta anggaran.

Persoalan itu terlihat di Sekolah Dasar Thomas Hooker, Connecticut. Pada Senin (28/9), tiga staf kantin menyiapkan makan siang untuk sekitar 300 siswa. Nugget ayam popcorn beku dilumuri saus jeruk sebelum dimasukkan ke oven penghangat. Menu tersebut disajikan bersama nasi merah dan buncis segar.

Sekolah juga menyediakan patty hamburger siap saji dengan keju, wortel mini, mentimun, tomat ceri, apel, jeruk, dan buah kalengan.

Bangunan sekolah yang berdiri sejak 1960-an itu tidak memiliki dapur. Sekolah Umum Meriden kemudian mengubah tiga lemari menjadi fasilitas dapur, sementara sejumlah peralatan ditempatkan di ruangan berbeda.

Direktur Layanan Makanan dan Nutrisi Meriden, Susan Maffe, menyebut kondisi tersebut menyulitkan penyediaan makanan segar.

"Kondisi ini jelas sangat menantang," kata Maffe, dikutip dari CNN Indonesia.

Pemerintahan Trump mendorong sekolah mengurangi makanan ultra-olahan melalui gerakan Make America Healthy Again yang didorong Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Robert F. Kennedy Jr.

"Kita perlu memperluas masakan rumahan, mengurangi tambahan gula dan makanan ultra-olahan, serta menyajikan lebih banyak hasil bumi segar, biji-bijian utuh, dan protein berkualitas tinggi," kata Kennedy pada Agustus.

Pemerintah AS mengalokasikan US$70 juta atau sekitar Rp1,1 triliun untuk hibah peralatan sekolah. Selain itu, US$30 juta atau sekitar Rp470 miliar disiapkan untuk penelitian mengenai penyediaan makanan sekolah yang lebih sehat dengan biaya efisien.

Namun, pengelola layanan makanan sekolah menilai dana tersebut belum memadai.

Ketua School Nutrition Foundation, Gay Anderson, mengatakan US$70 juta harus dibagi ke sekolah di 50 negara bagian.

"Uang sebesar US$70 juta tidak akan cukup untuk menjangkau 50 negara bagian," kata Anderson, dikutip dari CNN Indonesia.

Meriden menghabiskan lebih dari US$300 ribu untuk membeli dan memperbaiki peralatan pada tahun lalu. Connecticut pada tahap awal hanya mendapat US$209 ribu.

Survei School Nutrition Association menunjukkan hanya sekitar 16 persen distrik sekolah di AS yang setiap hari menyajikan makanan yang dibuat sendiri. Sekitar 71 persen melakukannya setidaknya sekali dalam sepekan.

Lebih dari 93 persen distrik menyatakan membutuhkan tambahan staf, pelatihan memasak, peralatan, dan infrastruktur.

Di Sioux Falls, South Dakota, Anderson memperkirakan diperlukan US$350 ribu untuk melengkapi sekolah dasar agar dapat menyediakan sarapan hangat. Namun, negara bagian itu pada tahap awal hanya menerima US$69 ribu.

Masalah biaya juga terasa di Meriden. Sekolah menghabiskan sekitar US$5,07 untuk setiap makan siang, sedangkan pemerintah federal mengganti sekitar US$4,80. Maffe memperkirakan kondisi itu menciptakan defisit sekitar US$250 ribu.

Di tengah persoalan tersebut, Littleton Public Schools di Colorado berhasil meningkatkan penggunaan bahan segar setelah membuka dapur produksi pusat senilai US$4 juta. Porsi menu berbahan segar meningkat lebih dari dua kali lipat.

Namun, perubahan selera siswa tetap menjadi tantangan. "Beberapa anak terbiasa dengan makaroni dan keju Kraft," kata Direktur Layanan Gizi Littleton, Jessica Gould.

"Kami mencoba membuat lompatan besar di sini. Membuat selera mereka mengikuti perubahan ini akan menjadi tantangan kami selanjutnya," lanjutnya, dikutip dari CNN Indonesia.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK