Proses Pembunuhan Driver Taksi Online di Deli Serdang
Perampokan-pembunuhan driver taksi online Ryan Alamsyah, 25, di Deli Serdang, Sumut, unik. Dua pelaku, Agus, 27, dan Gilang, 29, mengaku ke polisi, mereka memilih korban dari mengamati foto wajah akun driver. Ketika foto itu pria sangar, mereka bata…
Perampokan-pembunuhan driver taksi online Ryan Alamsyah, 25, di Deli Serdang, Sumut, unik. Dua pelaku, Agus, 27, dan Gilang, 29, mengaku ke polisi, mereka memilih korban dari mengamati foto wajah akun driver. Ketika foto itu pria sangar, mereka batalkan.
APAKAH berarti korban Ryan adalah pria yang berfisik lemah, sehingga dipilih oleh pelaku? Ternyata tidak. Ryan berfisik cukup kuat. Terus, mengapa ia dipilih pelaku sebagai korban? Simaklah kronologi kejadiannya, agar Anda paham jalan pikir penjahat..
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut, Kombes Cornelius Mangarahon Simanjuntak, kepada wartawan, Kamis, 27 Agustus 2026 menceritakan, demikian:
Kamis malam, 13 Agustus 2026 sekitar pukul 21.30 WIB ada laporan polisi melalui hotline 110, ditemukan mayat pria di kebun tebu Desa Bulu Cina, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang. Tim polisi meluncur ke sana, memang ditemukan mayat pria.
Kemudian diketahui, korban bernama Ryan Alamsyah. Polisi pun menyelidiki. Terungkap, Ryan sopir taksi online Maxim. Ia menggunakan akun driver Maxim milik ayahnya, Ramadhan Alam, 61, membawa Daihatsu Ayla putih BK 1740 ADR. Maka, polisi melacak pemesan terakhir akun itu.
Ketemulah pemesannya, Gilang, warga Karya Bakti, Kecamatan Medan Polonia. Polisi pun memburunya. Gilang ternyata tak di rumah. Polisi terus melacak.
Jumat 14 Agustus 2026, Gilang ditangkap polisi di sebuah hotel di Jalan Panglima Denai, Kecamatan Medan Amplas, Medan. Kebetulan, saat itu Gilang bersama Agus menginap di situ. Mereka foya-foya dari uang penjualan mobil hasil rampokan.
Polisi Sita Pisau Raut dan Kayu Belian dalam Kasus Pembunuhan Kakek di Meliau
Dalam interogasi awal, kedua pelaku tidak bisa mengelak saat polisi membeberkan aneka bukti hukum. Mereka mengakui merampok mobil taksi Ryan. Mobilnya dijual laku Rp17 juta, sedangkan HP korban dibuang karena takut dilacak polisi.
Kemudian polisi menangkap dua pria, IK, 25, warga Jalan Young Panah Hijau, Kelurahan Labuhan Deli, Medan Marelan, sebagai penadah, membeli Ayla putih itu. Satu lagi, RP, 32, warga Jalan Serdang Ef I, Kelurahan Belawan, Medan, selaku makelar mobil tersebut.
Dalam interogasi selanjutnya, Agus dan Gilang menjelaskan kronologi kepada polisi, begini:
Rabu malam, 12 Agustus 2026 Agus dan Gilang mengkonsumsi sabu sabu di warnet Jalan Ngumban Surbakti, Medan. Sabu habis, mereka masih ingin tambah tapi uang mereka habis. Lalu, Agus punya ide merampok taksi online.
Saat itu sudah Kamis, 13 Agustus 2026 sekitar pukul 01.00.
Kombes Cornelius: “Pemesanan taksi Maxim menggunakan HP tersangka GP (Gilang). Setelah dipesan, dibatalkan lagi. Karena, foto wajah akun driver penerima pesanan berambut cepak, wajah galak. Tersangka membatalkan, karena menduga, si driver aparat.”
Tersangka pesan taksi lagi. Kali ini foto si driver yang muncul, pria tua. Berambut putih, kumis dan jenggot putih. Inilah target yang cocok bagi mereka. Lalu para pelaku menunggu kedatangan taksi.
Ternyata, driver yang datang anak muda. Berbadan kekar, berotot, dan ramah. Itulah Ryan.
Cornelius: “Pengakuan tersangka ke penyidik, saat itu tersangka sempat kecewa karena foto wajah driver pada aplikasi tidak sama dengan driver yang datang. Pelaku bertanya ke driver. Dijawab driver, memang tidak sama, sebab itu akun bapaknya si driver.”
Kedua pelaku terlanjur naik mobil. Posisi duduk, Gilang di kiri depan, Agus di kanan belakang.Tujuan sesuai pesanan: Jalan Gagak Hitam.
Cornelius: “Dalam perjalanan, kedua pelaku ragu-ragu merampok. Karena waktu sudah mepet, dan mereka sudah hampir tiba ke tujuan, lalu mereka bicara ke sopir, mengubah tujuan ke Belawan, tanpa menggunakan aplikasi. Dalam tawar-menawar disepakati biaya tambahan Rp130 ribu. Taksi menuju Belawan.”
Dalam perjalanan, kedua pelaku belum mengeksekusi. Hingga, mobil sudah hampir tiba di titik tujuan.
Polisi Tangkap Pria Terduga Pelaku Pembunuhan Lansia Menggunakan Senjata Tajam di Bengkayang
Cornelius: “Sekitar 200 meter sebelum tiba di tujuan, tersangka yang duduk di kiri depan minta mobil berhenti, ia mau kencing di bawah pohon pinggir jalan. Mobil pun berhenti. Saat itulah pelaku yang duduk di belakang menjerat leher korban dengan ikat pinggang. Hingga korban meninggal,. Mayatnya dibuang di lokasi penemuan mayat.”
Ayah korban, Ramadhan Alam, saat diwawancarai wartawan mengatakan, memang Ryan menggunakan akun milik Ramadhan.
Ramadhan: “Anak saya Ryan nyopir, tujuannya membantu nafkah keluarga. Ia baru lulus Taruna Perkapalan. Ia sudah diterima bekerja di kapal. Minggu depan ia mulai kerja di kapal.”
Dari keterangan Ramadhan, pantas saja kedua pelaku rahu-ragu mengeksekusi korban. Ryan berbadan kekar. Tapi, jeratan ikat pinggang dari arah belakang membuat Ryan sulit melawan. Dari situ, kelihatan pola pikir penjahat.
Gavin de Becker dalam bukunya The Gift of Fear: Survival Signals That Protect Us from Violence (Little, Brown Company, 1997) mengungkap pola pikir perampok yang niat membunuh korban.
Buku ini bukan teori kriminologi murni, tetapi fokus pada pola pikir perampok-pembunuh sebelum bertindak. Ada dua hal yang mereka lakukan sebelum bertindak: Seleksi korban dan evaluasi tatap muka dengan korban sebelum dibunuh.
Becker dalam bukunya menyatakan, bahwa kekerasan tidak terjadi secara benar-benar acak. Sebelum kekerasan dilakukan, pelaku menjalankan suatu proses penilaian terhadap calon korban. De Becker menyebut proses ini sebagai “interview”, yakni pelaku mengamati dan “menguji” calon korban untuk mengetahui apakah orang tersebut mudah diatasi.
Dalam proses itu, pelaku membaca perilaku, keadaan, dan respons calon korban.
Becker secara eksplisit membahas victim selection. Menurutnya, pelaku tidak memilih korban secara sembarangan. Ada karakteristik tertentu yang membuat seseorang tampak lebih sesuai sebagai target.
Penampilan atau tipe tertentu dapat menjadi salah satu unsur yang diperhatikan pelaku. Tetapi faktor yang juga sangat penting ialah accessibility, setting, dan circumstance. Seberapa mudah korban diakses dan seberapa menguntungkan situasinya bagi pelaku?
Misalnya, seorang perampok hendak merampok mobil taksi online. Ia sebelumnya melihat profil calon driver melalui aplikasi. Dari foto profil, pelaku memperoleh kesan awal mengenai usia, jenis kelamin, ukuran tubuh atau kemungkinan kemampuan fisik seseorang melawan.
Tetapi foto itu sendiri belum menentukan keputusan. Ketika kendaraan datang, pelaku masih dapat melakukan penilaian lanjutan: apakah driver tampak kuat, waspada, mudah diajak bicara, sendirian, atau berada dalam posisi yang sulit meminta pertolongan.
Pelaku mencari mangsa yang memungkinkan keberhasilan, dengan risiko relatif kecil.
Putra Netanyahu Dievakuasi dari AS, Shin Bet Ungkap Ancaman Pembunuhan Iran
Pada kasus pembunuhan Ryan, para pelaku tidak mengenakan masker. Sehingga wajah-wajah pelaku dikenali Ryan. Seumpama para pelaku mengenakan masker, pasti sangat mencurigakan di mata korban. Ada kemungkinan, korban langsung menolak ketika para pelaku bermasker.
Sebaliknya, sesuai teori Backer, sebelum eksekusi pelaku ingin menganalisis calon korban. Jadi, pelaku pilih tidak mengenakan masker saat masuk taksi.
Ada satu bagian teori de Becker yang sangat relevan soal pelaku tidak pakai masker. Dalam kerangka victim selection, pelaku pada dasarnya berusaha mengendalikan situasi dan menghindari risiko yang dapat menggagalkan kejahatan.
Bila korban dapat mengenali wajah pelaku, maka identitas pelaku menjadi lebih mudah diketahui. Secara kriminologis, itu dapat dipandang sebagai risiko tambahan bagi pelaku.
Karena itu, pemakaian masker dapat mempunyai fungsi bukan hanya untuk menyembunyikan identitas, tetapi juga untuk mengurangi kemungkinan korban kelak mengenali pelaku.
Proses seleksi korban dan pengendalian situasi oleh pelaku tidak otomatis berarti pembunuhan. Kekerasan dapat meningkat ketika pelaku merasa identitasnya terancam, korban melakukan perlawanan, atau situasi keluar dari kendali.
Dendam Lama Bersemi di Bandara: Mengungkap Motif Kelam Pembunuhan Nus Kei
Pada kasus pembunuhan Ryan, tampak bahwa kedua pelaku sudah ragu melakukannya. Antara ya dan tidak. Sehingga lokasi tujuan taksi diperjauh, agar para pelaku punya waktu berpikir dan menganalisis situasi dan kondisi.
Jika disimak, jeratan ikat pinggang dari arah belakang korban butuh kecepatan tinggi bagi pelaku. Jeratan itu pastinya melilit, setidaknya satu kali putaran. Jika tidak dililit, korban bisa dengan gampang menahan jeratan dengan kedua tangan. Sebab, antara pelaku dan korban terhalang sandaran jok setinggi di atas kepala korban.
Betapapun, naas bagi korban. Para pelaku dijerat Pasal 459 KUHP, pembunuhan berencana. Ancaman maksimal hukuman mati. Setidaknya penjara seumur hidup. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.