Proyek Nuklir Kalbar: Indonesia Gandeng AS, Rusia Turut Menawar
FAKTANASIONAL.NET, INTERNASIONAL – Pemerintah Indonesia mulai mematangkan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Kalimantan Barat. Proyek strategis ini menjadi medan kolaborasi sekaligus persaingan teknologi antara ke…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET, INTERNASIONAL – Pemerintah Indonesia mulai mematangkan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Kalimantan Barat.
Proyek strategis ini menjadi medan kolaborasi sekaligus persaingan teknologi antara kekuatan global, dengan Amerika Serikat saat ini memegang komitmen awal melalui kesepakatan dagang timbal balik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengonfirmasi bahwa PT PLN (Persero) telah menjalin kemitraan dengan perusahaan asal Amerika Serikat, NuScale Power OVS LLC, untuk mengembangkan teknologi reaktor terbaru.
“Kita akan kerja sama pengembangan small modular reactor nuklir, yang sekarang PLN dan AS sudah ada kerja sama, MoU dan feasibility study dengan NuScale,” ujar Airlangga.
Proyek ini akan menggunakan skema Small Modular Reactor (SMR) dengan kapasitas rancangan sebesar $2 \times 75$ Megawatt.
Baca Juga: Anggaran Sewa Kapal PLN EPI Tembus Rp5 Triliun, CBA: Kontraknya Seperti Kuitansi Kosong
Berbeda dengan PLTN konvensional berskala besar, teknologi SMR dinilai lebih fleksibel dan cocok untuk karakteristik wilayah di Kalimantan Barat.
Edwin Nugraha Putra, yang mengawal rencana ini sejak menjabat sebagai pimpinan PLN Indonesia Power periode 2022–2025, menegaskan bahwa lokasi proyek tidak akan berubah dari rencana semula yang telah dikaji oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“[Lokasinya] masih di Kalimantan Barat, yang menjadi kajian BRIN itu yang dipakai lokasinya. Tidak ada lokasi baru yang dipakai,” kata Edwin.
Saat ini, proyek tersebut tengah memasuki masa evaluasi teknis yang diperkirakan memakan waktu delapan hingga sepuluh bulan sebelum melangkah ke tahap konstruksi.
Meski AS sudah melangkah maju dengan nota kesepahaman (MoU), Rusia melalui perusahaan negaranya, Rosatom Corp, terus menunjukkan minat serius.
Presiden Vladimir Putin secara terbuka menawarkan dukungan teknologi nuklir Rusia saat bertemu Presiden Prabowo Subianto di Moskwa pada pengujung 2025.
“Ada banyak prospek dalam sektor energi termasuk energi nuklir. Saya tahu bahwa Indonesia memang ada rencana terkait dan kalau Indonesia memang memutuskan melibatkan Rusia, kami selalu siap untuk membantu,” ungkap Putin.
Ketertarikan berbagai negara besar ini menempatkan Indonesia pada posisi tawar yang strategis.
Pemerintah kini dituntut untuk merumuskan kelanjutan proyek secara hati-hati melalui BRIN guna memastikan teknologi yang diadopsi paling efisien dan aman bagi kedaulatan energi nasional.
Baca Juga: Indonesia Bersiap Menuju Era Nuklir: PLTN Pertama Segera Dibangun
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.