Rahasia Presisi Rudal Modern di Tengah Konflik AS-Iran-Israel
LIFESTYLE, FAKTANASIONAL.NET - Konflik terbaru antara AS, Israel, dan Iran pecah setelah AS meluncurkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir Iran—Fordow, Natanz, dan Esfahan—menggunakan pesawat siluman B-2 dan bom bunker GBU-57. Eskalasi ini mene…
Dengarkan Ringkasan
LIFESTYLE, FAKTANASIONAL.NET - Konflik terbaru antara AS, Israel, dan Iran pecah setelah AS meluncurkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir Iran—Fordow, Natanz, dan Esfahan—menggunakan pesawat siluman B-2 dan bom bunker GBU-57.
Eskalasi ini menegaskan peran rudal balistik dan jelajah sebagai senjata utama perang modern, berkat kecepatan dan akurasinya.
Rudal modern mengandalkan tiga komponen utama: sistem pendorong, hulu ledak, dan pemandu. Inertial Navigation System (INS) merupakan dasar yang mengukur posisi dengan giroskop dan akselerometer, bebas gangguan eksternal namun akurasinya menurun seiring waktu.
Untuk koreksi, GPS, Glonass, atau BeiDou dipakai agar posisi tetap tepat hingga target.
Rudal jelajah canggih menggabungkan Tercom (terrain contour matching) dan DSMAC (digital scene matching area correlation).
Tercom mencocokkan kontur tanah dengan peta digital, sedangkan DSMAC memverifikasi citra permukaan bumi secara real-time.
Gabungan ini memungkinkan rudal menghindari radar musuh dan menukik tepat ke sasaran. Selain itu, kecepatan hipersonik (Mach 5+) memberi waktu deteksi minim bagi sistem pertahanan seperti Iron Dome.
Dalam konflik 13 Juni 2025, Iran meluncurkan ratusan rudal balistik ke Israel, menembus beberapa pertahanan karena kecepatan dan manuver elusif.
Sementara itu, serangan AS ke fasilitas nuklir Iran menunjukkan integrasi pesawat siluman, bom bunker, dan rudal jelajah untuk menjamin efektivitas misi.
Di era digital, keberhasilan serangan semacam ini semakin bergantung pada sinkronisasi sistem intelijen, logistik, dan teknologi pemandu.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.