Runtuhnya Reputasi Amerika: Warga Eropa Tak Lagi Percaya Janji Keamanan Washington
FAKTANASIONAL.NET - Dinamika geopolitik dunia tengah bergeser menuju arah yang sama sekali baru. Berdasarkan temuan survei komprehensif dari lembaga pemikir European Council on Foreign Relations (ECFR) yang diterbitkan pada Rabu (10/6/2026), tingkat…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Dinamika geopolitik dunia tengah bergeser menuju arah yang sama sekali baru. Berdasarkan temuan survei komprehensif dari lembaga pemikir European Council on Foreign Relations (ECFR) yang diterbitkan pada Rabu (10/6/2026), tingkat kepercayaan publik Benua Biru terhadap jaminan perlindungan militer Amerika Serikat (AS) merosot ke level terendah dalam sejarah modern.
Menjelang perhelatan krusial G7 dan NATO, ilusi bahwa Washington adalah payung pelindung Eropa kini perlahan runtuh.
Jajak pendapat lintas negara yang digelar bulan Mei lalu di 15 negara Eropa memotret realitas yang cukup mencengangkan. Kini, hanya tersisa 11% masyarakat yang masih meyakini AS sebagai sekutu strategis, sebuah kejatuhan drastis dibandingkan persentase 22% pada November 2024.
Lebih ekstrem lagi, sebanyak 13% responden melabeli AS sebagai rival dagang, dan 12% lainnya terang-terangan menganggap mereka sebagai pihak musuh.
Mayoritas absolut penduduk Eropa kini meragukan bahwa Washington akan sudi mengirimkan balatentaranya apabila kawasan mereka diserang militer asing.
Laporan ECFR mendiagnosis bahwa kebijakan luar negeri radikal Presiden AS Donald Trump—mulai dari gejolak Timur Tengah, provokasi aneksasi Greenland, hingga ancaman membubarkan komitmen NATO—menjadi biang keladi gelombang ketidakpercayaan ini.
Walau demikian, optimisme masih tersisa; lebih dari 60% warga di Prancis, Spanyol, dan Swedia percaya relasi akan pulih pasca-lengsernya Trump.
Peneliti senior ECFR, Jana Kobzová, menyoroti bahwa skeptisisme massal ini sukses memicu sentimen positif agar Eropa segera memutus belenggu ketergantungan dari AS. Publik rupanya lebih meyakini solidaritas bantuan pertahanan dari sesama negara tetangga apabila krisis bersenjata mendadak pecah.
Rekan peneliti Paweł Zerka menilai situasi ini menciptakan "jendela peluang" emas bagi pemimpin Uni Eropa untuk mendongkrak kapasitas militer regionalnya.
Dukungan publik untuk peningkatan anggaran pertahanan nasional dilaporkan melonjak rata-rata 4%.
Selain itu, 47% penduduk mendukung skema utang bersama Uni Eropa guna memborong persenjataan baru, di mana negara seperti Denmark memimpin kampanye masif (75%) untuk memprioritaskan pembelian alutsista buatan lokal Eropa ketimbang harus selalu mengekspor dari pabrikan AS.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.