Serangan Drone Jarak Jauh Ukraina Menghantam Pangkalan Udara Rusia
INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Pada Minggu (27/4/2025) waktu setempat, Badan Keamanan Ukraina (SBU) melancarkan serangan drone terbesar yang pernah dilakukan ke wilayah Rusia, menembus ribuan kilometer dari garis depan. Operasi yang diberi sandi…
Dengarkan Ringkasan
INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Pada Minggu (27/4/2025) waktu setempat, Badan Keamanan Ukraina (SBU) melancarkan serangan drone terbesar yang pernah dilakukan ke wilayah Rusia, menembus ribuan kilometer dari garis depan.
Operasi yang diberi sandi “Jaring Laba-Laba” ini memerlukan persiapan selama lebih dari satu setengah tahun dan memperlihatkan kemampuan Kiev untuk menyerang target militer yang sebelumnya dianggap sangat aman di wilayah Kutub Utara Rusia dan Siberia timur.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bahkan menyebut ini sebagai “operasi jarak jauh terbesar kami dalam lebih dari tiga tahun perang.”
Modus operandi operasi ini berbeda dari serangan drone Ukraina sebelumnya yang biasanya diluncurkan dari wilayah perbatasan dekat. Sumber SBU menyebut bahwa ratusan drone diselundupkan ke dalam wilayah Rusia dengan disembunyikan di dalam struktur kayu pada truk.
Setelah mencapai lokasi tertentu di sekitar pangkalan udara musuh, atap struktur dibuka dari jarak jauh, memungkinkan 117 drone kecil lepas landas dan menyerang target utama.
Target utama dalam operasi ini adalah 41 pesawat tempur Rusia—termasuk jet pengebom strategis Tu-95 dan Tu-22, serta pesawat deteksi radar A-50—yang biasa digunakan untuk mengebom kota-kota Ukraina.
Kementerian Pertahanan Rusia akhirnya mengonfirmasi adanya kebakaran di beberapa pangkalan udara di Murmansk dan Irkutsk akibat serangan drone tersebut, meski mereka menyatakan berhasil memadamkan api dan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Dikatakan pula beberapa drone sempat dicegat oleh pertahanan udara Rusia di wilayah Ivanovo, Ryazan, dan Amur, di dekat perbatasan dengan China.
Sumber SBU menyebut bahwa kerugian Rusia mencapai US$7 miliar (Rp 114 triliun) dan mereka berhasil menghancurkan sekitar 34% armada pengebom strategis yang membawa rudal jelajah.
Para blogger militer Rusia menilai insiden ini sebagai “pukulan berat” terhadap kekuatan udara Rusia, menyoroti kegagalan intelijen mereka dalam mengantisipasi penyusupan drone.
Serangan ini menjadi sorotan internasional karena jarak tempuh drone yang mencapai hingga 4.300 kilometer dari Ukraina. Hal ini sekaligus menjadi tekanan politik bagi Kremlin, terutama dalam perundingan potensial yang akan digelar di Istanbul.
Mantan Presiden dan tokoh oposisi Ukraina, Petro Poroshenko, menilai bahwa hasil operasi ini memperkuat posisi tawar Ukraina dalam setiap negosiasi dengan Rusia. Sementara itu, militer Rusia menyatakan akan meningkatkan sistem pertahanan udara untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.