Fakta Nasional

Spekulasi Serangan Militer AS ke Iran Menguat, Bocoran Whistleblower Ungkap Perpecahan di Lingkaran Donald Trump

FAKTANASIONAL.NET, INTERNASIONAL – Publik internasional diguncang oleh bocoran mengejutkan dari lingkaran dalam Gedung Putih terkait potensi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Jurnalis sekaligus whistleblower ternama, John Kiriakou, men…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: admin Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 23 February 2026 📖 2 menit
Spekulasi Serangan Militer AS ke Iran Menguat, Bocoran Whistleblower Ungkap Perpecahan di Lingkaran Donald Trump
Spekulasi terjadinya serangan militer AS ke Iran semakin mencuat. (Dok. Metro TV)

FAKTANASIONAL.NET, INTERNASIONAL – Publik internasional diguncang oleh bocoran mengejutkan dari lingkaran dalam Gedung Putih terkait potensi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Jurnalis sekaligus whistleblower ternama, John Kiriakou, mengungkap informasi dari mantan perwira CIA bahwa Presiden Donald Trump telah memutuskan untuk meluncurkan serangan dalam waktu dekat.

"Ia mengatakan bahwa keputusan telah dibuat untuk menyerang Iran pada hari Senin atau Selasa," kata Kiriakou dalam cuplikan video yang diunggah di platform X pada Minggu (22/2/2026).

Informasi ini muncul setelah Trump mempertegas tekanan diplomatik terhadap Teheran. Presiden AS dilaporkan memberikan tenggat waktu antara 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk menerima proposal AS yang mencakup penghentian program rudal balistik, pengayaan uranium, serta penghentian dukungan bagi kelompok proksi di Timur Tengah.

Baca Juga: Visi Donald Trump: Rencana Rekonstruksi Besar-Besaran Jalur Gaza

Kiriakou menilai penetapan tenggat waktu tersebut merupakan bagian dari taktik untuk membuat lawan lengah. "Yah, dia akan memberi Anda 10 hari, dia akan memberi Anda dua minggu, dan kemudian dia akan menyerang dua hari kemudian. Dia pikir itu membuat orang-orang kehilangan keseimbangan," papar Kiriakou.

Trump sendiri memberikan peringatan keras kepada wartawan pekan lalu mengenai batas waktu perundingan nuklir ini.

“Anda mungkin akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan. Saya rasa itu cukup waktu... maksimal 10 atau 15 hari,” ujarnya tanpa merinci detail tindakan militer yang akan diambil jika kesepakatan gagal tercapai.

Bocoran ini juga mengungkap peta dukungan di tingkat petinggi keamanan AS. Menurut sumber Kiriakou, rencana serangan tersebut mendapat dukungan penuh dari Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, hingga jajaran Kepala Staf Gabungan (Joint Chiefs of Staff).

Namun, penolakan disebut datang dari dua figur kunci di samping Trump, yakni Wakil Presiden J.D. Vance dan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard.

Ketidakpastian ini diperkuat oleh laporan media Axios yang mengutip penasihat senior Trump, menyebutkan bahwa presiden hingga kini belum membuat keputusan final terkait aksi militer.

Senada dengan itu, Senator Lindsey Graham mengungkapkan adanya perdebatan internal di Gedung Putih.

Meskipun dirinya mendukung aksi militer, Graham mengakui beberapa orang di lingkaran dekat Trump secara tegas menentang langkah tersebut.

Kini, dunia menunggu apakah gertakan "10 hari" dari Trump akan berujung pada meja perundingan atau justru memicu eskalasi militer besar di kawasan Timur Tengah pada awal pekan depan.

Baca Juga: Gertakan “Locked and Loaded” Donald Trump Alami Kebuntuan di Hadapan Iran


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK