Fakta Nasional

Taktik "Sandera" Era Baru: Strategi Iran Gunakan Selat Hormuz Tekan Amerika

FAKTANASIONAL.NET - Kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kini dinilai bukan lagi sekadar adu argumen diplomasi biasa. Sejumlah mantan diplomat AS menyebut Republik Islam tersebut tengah mempraktikkan kembali taktik lawas negosiasi pen…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 10 June 2026 📖 1 menit
Taktik "Sandera" Era Baru: Strategi Iran Gunakan Selat Hormuz Tekan Amerika
Selat Hormuz(instagram)

FAKTANASIONAL.NET - Kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kini dinilai bukan lagi sekadar adu argumen diplomasi biasa.

Sejumlah mantan diplomat AS menyebut Republik Islam tersebut tengah mempraktikkan kembali taktik lawas negosiasi penyanderaan dalam skala yang jauh lebih masif dan mematikan.

Mengutip analisis mendalam yang dipublikasikan CNN International pada Selasa (9/6/2026), eks negosiator AS untuk tahanan Penjara Evin mengungkap bahwa Iran selalu bertumpu pada konsep "kepemilikan".

Alih-alih merespons menggunakan sanksi ekonomi bergaya Washington, Teheran memilih mengunci aset krusial milik lawan hingga konsesi yang mereka inginkan dipenuhi lunas.

Pola penyanderaan aset ini sebenarnya sempat sukses dijalankan pada September 2023. Kala itu, Washington terpaksa mencairkan dana Iran senilai US$6 miliar di Korea Selatan demi membebaskan lima warga negaranya.

Namun, meletusnya konflik serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 membuat AS mengambil langkah tegas dengan membekukan kembali dana kemanusiaan tersebut di Qatar.

Merasa manuvernya terganggu, Iran kini membalas dengan menaikkan nilai taruhan secara drastis. Sasaran mereka tak lagi nyawa individu, melainkan akses Selat Hormuz—urat nadi maritim vital yang mengontrol hingga seperlima total perdagangan minyak mentah global.

Manuver ekstrem ini dipertegas lewat ultimatum penasihat militer Iran, Mohsen Rezaei. Ia mengancam jalur energi krusial itu akan tetap diblokade total sebelum AS mengembalikan aset Teheran sebesar US$24 miliar (sekitar Rp434,28 triliun).

"Jika pemerintahan Trump serius, US$24 miliar ini adalah ujian kepercayaan yang wajib dilewati Amerika," tantang Rezaei secara terbuka.

Di sisi lain, administrasi Presiden Donald Trump merespons gertakan ini dengan hantaman sanksi ekonomi agresif untuk mencekik habis ekspor minyak Iran. Meski begitu, para elit garis keras di Teheran bergeming.

Mereka meyakini guncangan rantai pasok energi global justru menempatkan Amerika di posisi tawar yang jauh lebih rentan. Selama keseimbangan dominasi ini belum bergeser, prospek perdamaian kedua kubu diprediksi akan terus terkurung dalam kebuntuan yang amat panjang.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK