Terseret Arus Perang Superpower: Akankah Indonesia Jadi Pion Amerika Melawan China?
FAKTANASIONAL.NET - Lanskap geopolitik dunia tengah memasuki babak baru yang semakin memanas. Setelah mengalami kegagalan strategis di Iran, Amerika Serikat kini mulai memutar arah bidikannya ke Asia Tenggara. Mengutip analisis Pengamat Geopolitik I…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Lanskap geopolitik dunia tengah memasuki babak baru yang semakin memanas. Setelah mengalami kegagalan strategis di Iran, Amerika Serikat kini mulai memutar arah bidikannya ke Asia Tenggara.
Mengutip analisis Pengamat Geopolitik Internasional, Tengku Zulkifli Usman, yang dirilis pada 26 April 2026, Washington kini bersiap menekan Indonesia lebih keras untuk ikut serta dalam agenda besar mereka melawan dominasi Beijing.
Kegagalan AS menundukkan Iran membuat rantai suplai energi China dari Timur Tengah tetap aman. Kondisi ini memaksa Donald Trump untuk mempercepat implementasi "China Containment Policy".
Karena tak mampu memblokir rute Teluk Persia dan Bab Al Mandeb, Amerika Serikat kini mengincar urat nadi perdagangan Asia: Selat Malaka.
Kehadiran kapal perang AS di perairan ini nantinya bukanlah sekadar patroli rutin, melainkan manuver terkoordinasi untuk mencekik jalur suplai energi China.
Penandatanganan kesepakatan pertahanan terbaru antara Menteri Pertahanan RI dan Menteri Perang AS, Pete Hegseth, menjadi sinyal kuat bahwa Washington ingin mencengkeram pengaruhnya lebih dalam di kawasan ini demi menahan laju kekuatan Beijing.
Di tengah pusaran konflik ini, prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia sedang diuji pada titik paling ekstrem. Retorika Non-Blok perlahan terdengar usang dan tak lagi relevan di mata para penguasa dunia.
Suka atau tidak, Indonesia akan terus didesak untuk menjadi mitra strategis Washington dalam memblokade China.
Sayangnya, daya tawar diplomasi kita saat ini masih tergolong lemah untuk menantang tekanan negara adidaya sekelas Amerika Serikat.
Jika kelemahan ini terus berlanjut, Asia Tenggara, khususnya Indonesia, hanya akan menjadi arena gladiator bagi negara-negara besar.
Tanpa ketegasan sikap dan kekuatan tawar yang riil, kedaulatan bangsa berisiko sekadar menjadi pelengkap dalam panggung rivalitas raksasa global.[dit]
Penulis: Tengku Zulkifli Usman | Pengamat Geopolitik Internasional
Sumber: Facebook/@Tengku Zulkifli Usman
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.