Fakta Nasional

Trump Takut Mati, Tega Benar 100 Lebih Staf dan Wartawan Dijadikan Umpan

KISAH Donald Trump kabur dari Air Force One ternyata belum tamat. Kalau sebelumnya dunia dibuat ngakak karena si rambut jagung diselundupkan lewat truk MBG, eh salah, katering maksudnya. Terbaru, saking takutnya dijemput malaikat maut, Trump sangat…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 12 August 2026 📖 3 menit
Trump Takut Mati, Tega Benar 100 Lebih Staf dan Wartawan Dijadikan Umpan
Trump Takut Mati, Tega Benar 100 Lebih Staf dan Wartawan Dijadikan Umpan/(Foto Ai hanya ilustrasi)
) -->

KISAH Donald Trump kabur dari Air Force One ternyata belum tamat. Kalau sebelumnya dunia dibuat ngakak karena si rambut jagung diselundupkan lewat truk MBG, eh salah, katering maksudnya. Terbaru, saking takutnya dijemput malaikat maut, Trump sangat tega menjadikan staf dan wartawan sebagai umpan. Seratus lebih personel ia jadikan umpan. Emang gila si Trump. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Menjadikan staf dan wartawan sebagai umpan, di sinilah logika keamanan Amerika mulai terasa seperti sinetron episode 947.

Menurut laporan terbaru, Senator Demokrat Richard Blumenthal dari Connecticut mendesak Kongres meminta pengarahan mengenai operasi rahasia tersebut. Ia mempertanyakan bagaimana pemerintah menjamin keselamatan para staf dan wartawan yang tetap berada di pesawat yang sebelumnya dianggap terlalu berisiko untuk ditumpangi Trump.

Dengan kata lain, Trump diselamatkan. Yang lain? “Selamat jalan, semoga selamat juga.”

Pada 8 Juli 2026, Trump memang terlihat naik Air Force One di depan kamera. Wartawan melihat. Staf melihat. Dunia melihat. Beberapa menit kemudian, ternyata Trump diam-diam dipindahkan ke pesawat C-32A.

Sementara itu, lebih dari 100 orang tetap berada di Air Force One dan disebut tidak mengetahui ancaman serius yang sedang dihadapi presiden.

Para wartawan diminta menutup tirai jendela selama penerbangan. Ini sudah seperti:

“Mohon tutup tirai. Ada sesuatu di luar.”

“Apa, Pak?”

“Rahasia.”

“Bahaya?”

“Rahasia.”

“Presiden di mana?”

“Juga rahasia.”

C-32A yang membawa Trump kemudian tiba di RAF Mildenhall, Inggris, sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Beberapa menit kemudian, Air Force One yang membawa rombongan pers ikut tiba.

Lalu muncul adegan yang kalau masuk film Hollywood mungkin ditolak karena dianggap terlalu absurd. Trump turun dari Air Force One seolah-olah baru saja tiba bersama semua orang.

Padahal sebenarnya sudah pindah pesawat. Ini bukan lagi perjalanan kenegaraan. Ini sulap tingkat presiden.

“Ladies and gentlemen, Presiden Trump!”

“Lho, bukannya tadi di pesawat?”

“Betul.”

“Terus?”

“Sudah pindah.”

“Ke mana?”

“Tidak tahu.”

“Terus kenapa muncul dari sini?”

“Karena plot twist.”

Trump kemudian menyapa pasukan di pangkalan sebelum naik Boeing 747 yang baru direnovasi dan diberikan Qatar, lalu terbang kembali ke Washington.

Masalahnya, sejumlah mantan pejabat keamanan nasional dan kalangan wartawan mempertanyakan logika operasi tersebut.

Ned Price menilai pemerintah seharusnya tidak mempertahankan cerita menyesatkan selama berminggu-minggu. Wartawan berada di pesawat disebut tanpa sadar telah menjadi semacam “konspirator” dalam operasi tersebut.

Mantan pejabat intelijen lain juga mempertanyakan, jika ancamannya begitu serius sehingga Trump harus dipindahkan, mengapa lebih dari 100 orang tetap berada di pesawat yang sama?

Mereka akhirnya tampak seperti figuran film yang belum membaca naskah.

Trump: “Saya harus pergi.”

Seratus orang: “Kenapa?”

Trump: “Tidak bisa dijelaskan.”

Seratus orang: “Kami bagaimana?”

Trump: “Semoga sukses.”

Inilah yang membuat kisah tersebut makin absurd. Air Force One bukan lagi sekadar pesawat presiden. Hari itu, ia seperti umpan raksasa bersayap. Trump berubah menjadi karakter utama yang diam-diam kabur lewat pintu belakang.

Truk katering menjadi kendaraan rahasia. C-32A menjadi pesawat pelarian. Seratus orang menjadi pemeran tambahan. Tirai jendela menjadi gorden nasional.

Trump sendiri mengakui dirinya menghadapi banyak ancaman dan menyebut dirinya nomor satu dalam daftar Iran. Mungkin itu sebabnya protokol keamanan akhirnya memakai prinsip sederhana, kalau maut mencari Trump, kasih dia Air Force One.

Trump? Naik pesawat lain. Kalau masih dicari? Masukkan lagi ke truk MBG, eh salah, katering. Sementara Kongres sekarang sibuk mencari jawaban. Satu pertanyaan paling penting mungkin begini:

“Pak Presiden, sebenarnya waktu itu you kabur dari siapa?”

Trump menjawab:

“Rahasia.”

“Terus kenapa kami dijadikan umpan?”

“Rahasia.”

“Lalu siapa yang menyelamatkan you?”

Trump menoleh ke belakang.

“Tanya katering.”

Sejak hari itu, mungkin status truk katering resmi berubah, dari pengangkut makanan menjadi kendaraan evakuasi presiden paling terkenal dalam sejarah Amerika.

“Bang, lihat kelakuan si Trump, mungkin orang Iran ngakak sampai kram perut kali ya?”

“Sepetinya gitu, wak. Padahal, orang Iran cuma becanda doang.” Ups

Penulis: Rosadi Jamani


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK