Fakta Nasional

WHO Tetapkan Wabah Ebola di RD Kongo Terburuk Sepanjang Sejarah

FAKTANASIONAL.NET — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan wabah Ebola yang tengah melanda Republik Demokratik (RD) Kongo sebagai yang terburuk sepanjang sejarah negara tersebut . Berdasarkan data yang dirilis WHO hingga 30 Juli 2026, ter…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 03 August 2026 📖 2 menit
WHO Tetapkan Wabah Ebola di RD Kongo Terburuk Sepanjang Sejarah
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola varian Bundibugyo yang melanda Republik Demokratik Kongo sebagai yang terburuk sepanjang sejarah negara tersebut, dengan total 3.605 kasus terkonfirmasi hingga akhir Juli 2026./Dok. Smithsonian Magazine

FAKTANASIONAL.NET — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan wabah Ebola yang tengah melanda Republik Demokratik (RD) Kongo sebagai yang terburuk sepanjang sejarah negara tersebut.

Berdasarkan data yang dirilis WHO hingga 30 Juli 2026, tercatat sebanyak 3.605 kasus terkonfirmasi dengan angka kematian mencapai 1.587 jiwa, atau memiliki tingkat fatalitas (case fatality rate) sebesar 44 persen.

Wabah yang dipicu oleh penyebaran Ebola varian Bundibugyo ini pertama kali diumumkan pada 15 Mei 2026.

Jumlah kasus saat ini telah resmi melampaui rekor epidemi Ebola periode 2018–2020 di RD Kongo, yang kala itu mencatatkan hampir 3.500 kasus dengan sekitar 2.300 kematian.

Melalui pernyataan resminya di platform X, WHO mengindikasikan bahwa tren penularan virus berbahaya tersebut masih berada pada fase mengkhawatirkan.

"Wabah tersebut semakin intensif, dengan penularan yang berkelanjutan dan peningkatan terus-menerus dalam kasus dan kematian yang dilaporkan," tulis laporan WHO, dikutip Minggu (2/8/2026).

Baca Juga: Masa Depan Utang Whoosh: Kemenkeu Tunggu Arahan Presiden

Keprihatinan WHO kian memuncak setelah mencatat ledakan 567 kasus baru dan 296 kematian hanya dalam kurun waktu sepekan terakhir. Laju transmisi yang dinilai sangat cepat ini memperberat krisis kesehatan di kawasan tersebut.

Sejumlah tantangan nonkesehatan di lapangan disinyalir menjadi pemicu utama yang memperburuk situasi penanganan.

Faktor ketidakamanan wilayah, gelombang perpindahan penduduk, hingga tingginya mobilitas lintas batas negara terus menghambat upaya pemutusan rantai penularan.

Pusat penyebaran wabah terdeteksi berada di Provinsi Ituri, wilayah timur laut RD Kongo. Namun, transmisi kini telah meluas ke Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan—dua wilayah yang sebagian lokasinya dikuasai oleh kelompok bersenjata M23.

Konflik bersenjata dan situasi keamanan yang rapuh membuat tim medis kesulitan melakukan intervensi kesehatan secara maksimal.

Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun metode terapi medis yang secara resmi disetujui untuk menangani Ebola varian Bundibugyo.

Meski demikian, WHO mengonfirmasi bahwa kandidat vaksin yang paling potensial saat ini sedang dikembangkan di Singapura, sementara uji klinis kandidat vaksin lainnya telah dimulai di Inggris.

Dampak krisis ini mulai melintasi batas negara. Selain di RD Kongo, wabah tercatat telah memicu 20 kasus di Uganda serta satu kasus di Prancis. Sementara itu, dua pasien asal RD Kongo yang terinfeksi dilaporkan telah dievakuasi untuk menjalani perawatan intensif di Jerman.

Ebola merupakan penyakit mematikan yang menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh. Dalam rentang lima dekade terakhir, virus ini tercatat telah merenggut sekitar 15 ribu nyawa di berbagai belahan benua Afrika.


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK