Yaman Mulai Operasi Militer untuk Rebut Wilayah dari Houthi
FAKTANASIONAL.NET - Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman yang didukung Arab Saudi, Rashad Al Alimi, mengumumkan dimulainya operasi militer untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok milisi Houthi. Dilansir dari Al Jazeera pada 5/10/2026…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman yang didukung Arab Saudi, Rashad Al Alimi, mengumumkan dimulainya operasi militer untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok milisi Houthi.
Dilansir dari Al Jazeera pada 5/10/2026, pengumuman itu disampaikan Al Alimi, Ia menyatakan pasukan pemerintah yang diakui secara internasional akan memperluas otoritas negara dan lembaga pemerintahan ke seluruh wilayah nasional.
“Kami telah menginstruksikan angkatan bersenjata, pasukan keamanan, dan semua formasi militer untuk mulai melaksanakan tugas yang telah ditetapkan sesuai dengan rencana yang telah disetujui hingga negara ini dibebaskan dari Houthi,” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera.
Al Alimi juga mengatakan seluruh lembaga negara akan berada dalam kondisi siaga penuh sampai operasi tersebut berakhir dan kemenangan tercapai.
Langkah tersebut diumumkan setelah tentara dan pasukan pemerintah Yaman melancarkan 257 operasi terhadap Houthi pada akhir pekan. Serangan menyasar lokasi, pergerakan, serta kemampuan militer kelompok tersebut.
Juru bicara pemerintah Yaman, Majed Abdullah Al Nazili, menyebut operasi itu menewaskan sedikitnya 700 anggota Houthi.
Pada Minggu, koalisi pimpinan Saudi juga melaporkan 97 operasi terhadap bala bantuan Houthi di front Tor Al Baha dan poros Taiz. Operasi dilakukan menggunakan pesawat tempur, drone, artileri, rudal, serta penembak jitu.
Di sisi lain, juru bicara Houthi Yahya Saee menyatakan kelompoknya telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke dua lokasi Saudi Aramco di Riyadh dan Khurais. Arab Saudi belum memberikan komentar langsung terkait serangan tersebut.
Analis pertahanan yang berbasis di London, Ibrahim Jalal, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa operasi “skala penuh” pemerintah Yaman menandai masuknya konflik ke “fase baru”.
“Proses perdamaian dan de-eskalasi telah gagal karena ada ketidakseimbangan kekuatan yang jelas yang telah berlangsung setidaknya selama enam tahun terakhir. Untuk memecah kebuntuan, harus ada pertempuran yang menentukan,” kata Jalal.
Pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman meningkat sejak gencatan senjata 2022 runtuh pada Juli.
Pada pertengahan September, Houthi merebut kota pelabuhan Mocha serta sejumlah pulau strategis di Selat Bab Al Mandeb, jalur penting bagi pengiriman minyak global. Pasukan anti-Houthi kemudian menstabilkan garis depan.
Yaman sendiri telah berada dalam perang saudara sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.