“Kami telah menyelesaikan validasi teknis di berbagai jenis pesawat, termasuk pesawat jet komersial dengan maskapai penerbangan Indonesia, Pelita Air Services. Pelita Air telah mencoba menggunakan SAF untuk penerbangan domestik dan penerbangan internasional. Hal ini menunjukkan kesiapan operasional end-to-end yang sebenarnya dalam ekosistem kami sendiri,” papar Agung.
Pertamina kini tengah mengejar penyelesaian proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2029. Proyek ini diproyeksikan untuk memenuhi mandat pemerintah terkait campuran SAF 1% pada penerbangan internasional dari Indonesia mulai tahun 2027, sekaligus membuka keran ekspor lebih lebar.
Tantangan Regulasi dan Bahan Baku
Meski memiliki potensi limbah yang melimpah seperti minyak jelantah dan residu kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME), Agung menekankan bahwa kesuksesan komersialisasi SAF sangat bergantung pada kepastian regulasi lintas negara.
“Pasar wajib memberikan kepastian permintaan struktural – yang sangat penting untuk jangka panjang, sementara voluntary market mempercepat adopsi dan inovasi. Keduanya saling melengkapi dalam meningkatkan skala SAF. Kuncinya ada pada regulasi yang jelas, sistem sertifikasi yang kuat, dan harmonisasi standar internasional,” pungkasnya.
Dengan integrasi rantai pasok dari pengumpulan limbah rumah tangga hingga distribusi ke maskapai, Pertamina berharap dapat mengatasi kendala utama industri SAF global saat ini, yaitu ketersediaan bahan baku berkelanjutan yang tidak berbenturan dengan sektor pangan.
Baca Juga: Pertamina Pastikan Stok Avtur Aman Jelang Lonjakan Mudik Lebaran











