(Jihad untuk menjaga Pom Bensin)
43 NEGARA Islam! Allahu Akbar! Bersatu! Untuk apa? Untuk jaga kapal tanker. Untuk jaga harga minyak. Untuk jaga supaya pengiriman lancar ke Eropa dan Amerika.
Akhirnya, setelah 1.400 tahun, umat Islam menemukan alasan untuk bersatu. Bukan karena Al-Quran dibakar, bukan karena Nabi dihina, bukan karena Al-Aqsa dinistakan. Tapi karena ada yang mengganggu jadwal kapal tanker.
Mencret kita dengar kabar ini. Kita punya 43 negara, punya minyak 70% dunia, punya tentara jutaan, punya jet tempur yang kalau diparkir bisa penuhi gurun. Dan selama 3 tahun kita menyaksikan Gaza dibombardir, kita dengar semua itu, dan kita bilang: sabar, ini rumit, ini politik.
Tapi begitu satu kapal minyak disenggol di Laut Merah, tiba-tiba politiknya tidak rumit lagi. Tiba-tiba langsung halal untuk bersatu, langsung halal untuk kirim armada, langsung halal untuk rapat darurat. Ajaib. Ternyata tombol jihad itu ada di pom bensin.
Giliran Gaza dibombardir 3 tahun, anak-anak dicincang, rumah sakit diratakan, 43 negara itu kemana? Ketika 40 ribu lebih syahid, mayoritas wanita dan anak-anak, ketika Al-Aqsa dinistakan setiap hari, di mana 43 negara itu?
Di mana? Sedang menghitung rugi laba.
Jangankan kapal perang, kapal kardus saja tidak dikirim. Jangankan tentara, perawat saja tidak diizinkan masuk. Ini kalimat yang harusnya membuat setiap menteri pertahanan dari 43 negara itu malu untuk bercermin.
Perawat, bro. Perawat yang bawa perban dan obat demam saja tidak boleh masuk Gaza tanpa izin Israel. Seorang perawat dari Indonesia, dari Pakistan, dari Mesir, ditolak di pintu Rafah. Dan 43 negara Islam dengan semua pangkat jenderalnya menerima itu sebagai takdir.











