Lebih lanjut, Komisi di DPR yang membidangi urusan kesehatan itu juga meminta Pemerintah menyediakan program pelatihan bagi tenaga medis lokal untuk memastikan mereka memiliki keterampilan yang diperlukan. Arzeti mengatakan, kualitas tenaga kesehatan akan menjadi salah satu faktor keberhasilan program MCU gratis.
“Pelatihan tersebut dilakukan agar para petugas medis memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menunjang kesuksesan program skrining kesehatan. Pemanfaatan teknologi juga sangat diperlukan di era digital saat ini,” ungkap Arzeti.
“Misalnya dengan pemanfaatan teknologi telemedicine untuk memberikan layanan kesehatan jarak jauh bagi daerah yang sulit dijangkau,” sambung Legislator dari dapil Jawa Timur IV itu.
Arzeti juga mengatakan Pemerintah perlu berkolaborasi dengan sektor swasta dalam melakukan program skrining kesehatan gratis ini. Kolaborasi tersebut bisa dilakukan agar sektor swasta berpartisipasi dalam pembangunan dan pengelolaan fasilitas kesehatan di daerah-daerah terpencil.
“Monitoring dan evaluasi berkala terhadap program tersebut pun perlu dilakukan, apakah memberi dampak signifikan atau tidak,” terang Arzeti.
Sebagai informasi, skrining kesehatan gratis akan difokuskan pada berbagai golongan usia, yaitu balita, remaja, dewasa, dan lansia. Skrining Balita akan difokuskan pada deteksi penyakit bawaan lahir seperti hipotiroid kongenital yang jika teridentifikasi secara dini, dapat diobati untuk mencegah kematian atau kecacatan.
Lalu Skrining Remaja (di bawah 18 tahun) meliputi pemeriksaan obesitas, diabetes, dan kesehatan gigi. Skrining ini bertujuan mendeteksi masalah kesehatan yang sering muncul pada usia anak hingga remaja.
Sementara untuk Skrining Dewasa akan difokuskan pada deteksi dini kanker, termasuk kanker payudara dan serviks yang merupakan penyebab utama kematian pada wanita di Indonesia, serta kanker prostat pada laki-laki.
Kemudian Skrining Lansia meliputi pemeriksaan alzheimer, osteoporosis, serta kesehatan umum terkait penuaan.
Arzeti menilai, program skrining gratis tersebut akan menjadi terobosan dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat bila dilakukan dengan efektif.
“Tapi pelaksanaan program harus optimal dan memperhatikan program kesehatan prioritas nasional lainnya, seperti penanganan stunting dan program imunisasi,” tutupnya.[dnl]










