Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, direncanakan satu gigawatt (GW) kapasitas nuklir akan dikembangkan sebagai tahap awal, membuka peluang hilirisasi dan transfer teknologi nuklir.
Sebagai negara penghasil nikel terbesar dunia, Indonesia memiliki modal strategis untuk membangun rantai pasok bahan bakar nuklir terintegrasi, mulai pengolahan uranium hingga pemasangan reaktor modular.
Selain menciptakan lapangan kerja berkualitas, PLTN modular diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional dan menurunkan emisi karbon.
Melalui pertemuan ini, Indonesia dan Inggris memperkuat komitmen bersama dalam pengembangan EBT canggih.
Langkah selanjutnya, tim teknis kedua negara akan merancang studi kelayakan, analisis dampak lingkungan, dan roadmap transfer teknologi. Proyek ini potensial menjadi tonggak sejarah baru bagi ekosistem energi terbarukan Indonesia.[dit]









