Keterlibatan mitra global seperti CATL, Brunp, dan Lygend memperkuat posisi Indonesia di peta rantai pasok baterai internasional. Erick menegaskan, “Indonesia tidak lagi sekadar menambang dan mengekspor bahan mentah, tetapi membangun industri bernilai tambah hingga menghasilkan baterai EV.”
Kolaborasi ini juga sejalan dengan kebijakan transisi energi hijau nasional, di mana Kementerian ESDM dan Kemenperin memastikan keberlanjutan teknologi dan pasokan bahan baku.
Langkah ini diharapkan menciptakan ribuan lapangan kerja baru, menstimulasi investasi asing, dan mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon. Dengan membangun hilirisasi domestic, Indonesia siap menjadi pemain utama di industri kendaraan listrik global.[dit]











