Di sektor agrikultur, perusahaan swasta terkemuka seperti Sorini Agro Asia Corporindo dan FKS Group juga berkomitmen untuk menambah volume impor produk pertanian.
Bahkan, perusahaan makanan raksasa AS, Cargill, mengonfirmasi bahwa pembelian jagung termasuk dalam salah satu kesepakatan yang berhasil dicapai. Rangkaian MoU ini menjadi bukti konkret upaya Indonesia memperdalam kerja sama ekonomi.
Langkah “borong” produk AS ini merupakan respons langsung terhadap data perdagangan. Pada tahun 2024, defisit perdagangan barang AS dengan Indonesia tercatat sebesar US$ 17,9 miliar, sebuah angka yang menjadi perhatian pemerintahan Trump.
Meskipun nilai total dari kesepakatan terbaru belum diumumkan secara rinci, komitmen belanja yang pernah disebutkan mencapai US$ 34 miliar. Dengan membuka keran impor lebih lebar untuk produk-produk AS, Indonesia berharap dapat menekan angka defisit tersebut dan pada akhirnya berhasil membatalkan rencana pemberlakuan tarif 32% yang dapat merugikan ekspor nasional.[dit]











