JAKARTA FAKTANASIONAL.NET – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet), mendukung kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM-PPKF) 2027 yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI.
Arah kebijakan fiskal 2027 menunjukkan pemerintah sedang membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang dengan pendekatan yang lebih realistis, terukur, dan fokus pada penguatan daya tahan nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Di tengah perlambatan ekonomi dunia, tensi geopolitik, perang dagang, serta tekanan suku bunga global, pemerintah dinilai tetap mampu menjaga optimisme ekonomi nasional dengan target pertumbuhan 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027.
“Kerangka ekonomi dan kebijakan fiskal 2027 yang disampaikan Presiden Prabowo memperlihatkan keberanian pemerintah mengambil langkah strategis untuk menjaga kesinambungan pembangunan sekaligus memperkuat perlindungan sosial masyarakat. APBN ditempatkan sebagai instrumen perjuangan negara untuk memastikan kesejahteraan rakyat meningkat secara nyata,” ujar Bamsoet usai menghadiri Rapat Paripurna DPR RI di Komplek Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/26).
Turut hadir selain Presiden Prabowo Subianto, antara lain Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, Pimpinan MPR RI, Ketua DPR RI Puan Maharani, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Saan Mustopa, dan Sari Yuliati, anggota DPR RI, anggota DPD RI, Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia, Ketua Umum PKS Muzammil Yusuf, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, serta para menteri kabinet.
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menilai, desain RAPBN 2027 memperlihatkan kehati-hatian pemerintah dalam mengelola fiskal. Target defisit pada kisaran 1,80 hingga 2,40 persen terhadap PDB menunjukkan disiplin fiskal tetap dijaga di tengah kebutuhan pembiayaan program prioritas nasional yang semakin besar. Pemerintah tetap mempertahankan ruang fiskal yang sehat agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
Langkah tersebut penting karena berbagai lembaga internasional memperkirakan ekonomi dunia di tahun 2026-2027 masih dibayangi perlambatan akibat konflik geopolitik, volatilitas harga energi, serta fragmentasi perdagangan internasional. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam proyeksi terakhirnya juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih bergerak di kisaran 3 persen.
“Pemerintah sangat tepat menjaga defisit tetap terkendali. Ini penting untuk menjaga kepercayaan pasar, menjaga rating investasi Indonesia, sekaligus memastikan ruang fiskal tetap tersedia menghadapi berbagai tekanan global yang sewaktu-waktu bisa muncul,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memaparkan, target pertumbuhan ekonomi menuju 6,5 persen pada 2027 merupakan tekad kuat pemerintah ingin keluar dari stagnansi pertumbuhan lima persen yang selama satu dekade terakhir menjadi pola ekonomi nasional. Namun, target tersebut realistis apabila didukung akselerasi hilirisasi industri, penguatan investasi, perluasan sektor manufaktur, pengembangan ekonomi digital, serta peningkatan konsumsi domestik.
Saat ini kontribusi ekonomi digital Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan nilai ekonomi digital diperkirakan melampaui US$ 130 miliar pada tahun 2025. Sementara hilirisasi mineral yang didorong pemerintah telah meningkatkan nilai ekspor produk berbasis nikel, stainless steel, hingga baterai kendaraan listrik secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.











