Warga khawatir kebijakan ini akan semakin menekan kantong mereka yang sudah terbebani oleh kondisi ekonomi.
Sebagai respons atas kebijakan tersebut, warga turun ke jalan-jalan di ibu kota, Quito, dan kota-kota lainnya. Aksi protes yang awalnya damai berubah menjadi bentrokan sengit dengan aparat keamanan.
Para pengunjuk rasa dilaporkan merusak barikade, sementara polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Penerapan keadaan darurat sendiri tidak memberlakukan jam malam, tetapi menangguhkan hak berkumpul untuk mencegah gangguan terhadap layanan publik.
Langkah ini, meski bertujuan mengembalikan ketertiban, juga menunjukkan betapa dalamnya krisis kepercayaan antara pemerintah dan rakyatnya mengenai kebijakan ekonomi fundamental.[dit]
