INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET – Pemerintah Ekuador mengambil langkah drastis dengan mengumumkan keadaan darurat selama 60 hari di seluruh 24 provinsi. Keputusan yang diumumkan oleh Presiden Daniel Noboa ini merupakan respons langsung terhadap kerusuhan besar yang melanda negara tersebut.
Gelombang protes meletus setelah pemerintah secara tiba-tiba mencabut subsidi untuk bahan bakar solar, sebuah kebijakan yang berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat luas. Untuk meredam situasi yang disebut sebagai “kerusuhan internal yang parah”, angkatan bersenjata dan kepolisian nasional dikerahkan secara masif di berbagai kota.
Situasi ini menunjukkan betapa sensitifnya isu subsidi energi dan bagaimana dampaknya dapat memicu krisis sosial dan keamanan yang serius dalam waktu singkat.
Akar masalah dari kekacauan ini adalah keputusan pemerintah untuk menghapus subsidi solar yang telah berlaku selama puluhan tahun. Akibatnya, harga solar melonjak dari sekitar $1,80 menjadi $2,80 per galon dalam semalam.
Pemerintah berdalih bahwa subsidi senilai $1,1 miliar per tahun tersebut membebani anggaran negara dan tidak tepat sasaran. Dana tersebut rencananya akan dialihkan untuk program sosial. Namun, bagi masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, kenaikan harga ini berarti peningkatan biaya transportasi dan harga barang-barang kebutuhan pokok.
