Ketika korupsi dianggap biasa, lahirlah budaya permisif terhadap ketidakjujuran. Generasi muda akan melihat bahwa cara cepat untuk sukses adalah dengan menipu dan mencuri, bukan dengan kerja keras dan inovasi. Integritas menjadi barang langka, dan kepercayaan antar sesama warga terkikis. Dampak moral ini jauh lebih berbahaya karena membutuhkan waktu puluhan tahun untuk memulihkannya.
Dari sudut pandang spiritual dan keagamaan, memakan uang korupsi adalah dosa besar. Harta yang diperoleh dari hasil merampas hak orang lain tidak akan membawa keberkahan. Sebaliknya, ia akan menjadi beban pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Uang tersebut tidak hanya mencemari diri sendiri, tetapi juga keluarga yang dinafkahinya. Pada akhirnya, kenikmatan sesaat dari uang korupsi akan dibayar dengan penderitaan jangka panjang, baik di dunia maupun di akhirat.[dit]











