Di balik tragedi ini, cerita para santri menambah pilu:
Ahmad (15), santri asal Jombang, terakhir kali menelepon ibunya, Siti Mariam, untuk meminta doa sebelum ujian hafalan Qur’an. Kini, sang ibu hanya bisa menggenggam peci anaknya sambil berdoa di halaman ponpes.
Hasan Basri (17), dikenal rajin membantu adik kelas, sempat menulis di grup keluarga: “Besok doakan aku ujian, ya.” Pesan singkat itu kini menjadi pengingat penuh air mata.
Ustaz Abdul Karim, pengajar tafsir Qur’an, disebut tetap menenangkan muridnya saat bangunan berguncang. “Beliau hanya berkata jangan panik, perbanyak zikir,” tutur salah satu murid yang selamat. Hingga kini, keberadaan ustaz Karim masih belum diketahui.
Data Korban di Penanganan
Hingga Rabu (1/10) pukul 11.00 WIB, tim SAR berhasil mengevakuasi sekitar 100 korban dengan rincian:
3 orang meninggal dunia.
Puluhan mengalami luka berat maupun ringan dengan rinciannya:
- RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo: 39 pasien (5 luka berat, 32 luka ringan, 2 meninggal).
- RS Siti Hajar: 53 pasien (9 luka berat, 42 luka ringan, 1 dirujuk ke RSI Sakinah Mojokerto, 1 meninggal).
- RS Delta Surya: 6 pasien (5 luka berat, 1 luka ringan).
- RS Sheila Medika: 1 pasien, sudah pulang.
- RS Unair: 1 pasien rawat inap.
- Kerugian material sementara tercatat rusaknya satu unit fasilitas madrasah.
Dukungan Menyeluruh
BNPB menyalurkan bantuan berupa paket sembako, tenda darurat, selimut, matras, tikar, dan hygiene kit. Selain itu, Dana Siap Pakai (DSP) disiapkan untuk mendukung operasi SAR, perbaikan sarana, dan fase rekonstruksi.
BPBD Jawa Timur, BPBD Sidoarjo, Damkar, PMI, TNI, Polri, Tagana, Dinas PU, Baznas, dan ratusan relawan bekerja tanpa henti. Dapur umum juga didirikan untuk keluarga korban yang menunggu di lokasi.
“Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar proses evakuasi berjalan lancar dan korban yang masih tertimbun bisa segera diselamatkan,” pinta Kepala BNPB.
Doa dan Harapan
Malam semakin larut, namun doa tidak pernah berhenti. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar di antara isak tangis keluarga. Di balik reruntuhan, masih ada keyakinan bahwa beberapa santri bertahan hidup.
Seorang ayah berujar lirih sambil menatap puing: “Kami titipkan anak-anak kami untuk menuntut ilmu agama. Semoga mereka pulang dalam keadaan selamat. Itu saja harapan kami.”
Tragedi ini tidak hanya menjadi luka bagi keluarga besar Ponpes Al Khoziny, tetapi juga tamparan bagi bangsa tentang pentingnya standar keselamatan bangunan. Namun di atas segalanya, ia menunjukkan kekuatan doa, solidaritas, dan semangat pantang menyerah untuk menyelamatkan nyawa.[zul]











