“Bung Karno lebih memilih mendukung Palestina saat itu bukan karena dia Islam, tetapi karena mereka terjajah,” jelas Hasto.
Ia merujuk pada prinsip yang tertuang dalam UUD 1945: “Kemerdekaan ialah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.”
“Maka ini cara berpikir kita, ini cara berpikir kader-kader PDI Perjuangan. Politik PDI Perjuangan adalah politik etika dan moral yang universal,” katanya.
Hasto memaparkan beberapa bukti sejarah rekam jejak Bung Karno dalam membela kedaulatan negara-negara Muslim yang saat itu masih berjuang dari kolonialisme, rekam jejak yang menurut Hasto sempat “ditutup oleh sejarah pada masa Orde Baru”:
Yakni dukungan terhadap Aljazair dimana Indonesia mengirimkan kapal perang untuk mendukung perjuangan rakyat Aljazair melawan penjajahan Prancis.
Lalu dukungan Pakistan. Sebagai bentuk apresiasi atas dukungan Pakistan terhadap Indonesia pada Resolusi Jihad 1945 di Surabaya, Soekarno mengirimkan kapal selam kelas Whiskey saat Pakistan berjuang melepaskan diri dari Inggris.
Hasto menekankan bahwa tugas kader partai saat ini adalah mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa dan melanjutkan semangat perjuangan Bung Karno dan Ibu Megawati.
“Jangan biarkan pengorbanan mereka sia-sia. Maka tugas politik kita bersama adalah membangun peradaban Indonesia,” seru Hasto.
Ia menutup pidatonya dengan menegaskan kembali komitmen PDI Perjuangan untuk rakyat dan bangsa.
“Tugas politik kita bersama adalah membangun peradaban Indonesia. Agar cita-cita Indonesia Raya, masyarakat adil, makmur, yang berkeadilan, yang tertib hukum, yang punya kesadaran untuk merawat pertiwi, semakin kita gelorakan.”










